Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah pejabat Gedung Putih meragukan serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran bisa membuka jalan mengganti rezim di negara itu.
Keraguan itu muncul meski operasi tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedikitnya tiga pejabat AS yang mengetahui hasil penilaian intelijen mengatakan oposisi Iran saat ini masih lemah dan belum mampu menjatuhkan sistem pemerintahan teokratis yang berkuasa sejak 1979.
Meski kemungkinan runtuhnya pemerintah Iran tidak sepenuhnya ditutup, para pejabat menilai hal itu kecil terjadi dalam waktu dekat.
Sebelumnya, sejumlah pejabat AS, termasuk Presiden Donald Trump, menyebut menggulingkan pemerintahan Iran sebagai salah satu tujuan Washington, selain melemahkan program rudal balistik dan nuklir negara itu.
"Saya menyerukan kepada seluruh patriot Iran yang mendambakan kebebasan untuk memanfaatkan momentum ini dan merebut kembali negara kalian," kata Trump dalam video yang diunggah di Truth Social pada Minggu, dikutip Reuters.
Namun, penilaian intelijen AS menunjukkan tekanan militer saja dinilai tidak cukup untuk menjatuhkan pemerintahan Iran.
Analisis Badan Intelijen Pusat AS (CIA) memperkirakan posisi Khamenei kemungkinan akan digantikan tokoh garis keras dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) atau ulama dengan pandangan serupa.
Seorang pejabat AS mengatakan IRGC kecil kemungkinan menyerah karena memiliki jaringan loyalitas internal yang kuat.
Laporan intelijen juga menyebut tidak ada anggota IRGC yang berpihak ke lawan selama gelombang protes anti-pemerintah pada Januari, yang dinilai menjadi faktor penting bertahannya rezim.
Trump sendiri mengatakan AS berencana membuka kembali jalur komunikasi dengan Iran, yang menunjukkan Washington tidak melihat pemerintahan Iran akan segera runtuh.
Gedung Putih belum menanggapi permintaan komentar, sementara CIA menolak berkomentar.
Perdebatan dampak kematian Khamenei
Pejabat AS juga masih memperdebatkan apakah kematian Khamenei akan mengubah sikap Iran dalam negosiasi nuklir atau menghambat kemampuan negara itu membangun kembali program rudal dan nuklirnya.
Dalam beberapa pekan terakhir, pejabat senior AS semakin pesimistis bahwa tokoh oposisi yang didukung Washington mampu secara mengendalikan Iran jika pemerintahan runtuh.
"Pada akhirnya, setelah serangan AS dan Israel berhenti, keberhasilan mengakhiri rezim akan bergantung pada apakah aparat tingkat bawah memilih mundur atau berpihak kepada rakyat," kata Jonathan Panikoff, mantan pejabat tinggi intelijen AS yang kini bekerja di lembaga pemikir Atlantic Council.
"Jika tidak, sisa rezim yang masih bersenjata kemungkinan akan menggunakannya untuk mempertahankan kekuasaan," tambah dia.
(rnp/bac)

14 hours ago
10
















































