Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang profesor di Universitas Teheran Foad Izadi menyatakan penutupan Selat Hormuz dinilai dapat menjadi salah satu senjata Iran paling efektif perang melawan Amerika Serikat dan Israel.
Jalur strategis itu dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia, sehingga berpotensi mengguncang pasar energi global jika ditutup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Izadi, langkah itu bisa digunakan sebagai bentuk tekanan terhadap sejumlah pihak yang menyerang Iran.
"Selat Hormuz akan tetap ditutup selama berbulan-bulan ke depan kecuali persoalan finansial ini diselesaikan," ujar Izadi, dikutip Al Jazeera.
Pernyataan itu disampaikan Izadi yang mengatakan Selat Hormuz bisa tetap ditutup hingga Iran menerima kompensasi atas kerugian itu.
Ia mengatakan kerugian ekonomi yang dialami Iran dan sejumlah negara di kawasan harus dibalas.
"Iran telah mengalami kerugian miliaran dolar dalam 12 hari terakhir. Mereka harus membayarnya kembali," ujar Izadi.
Selat Hormuz merupakan jalur penting perdagangan minyak global, di mana seperempat minyak dunia dan seperlima gas alam cair melewati jalur ini.
Sebelumnya, pada Sabtu (28/2), Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) menutup jalur pelayaran, memperingatkan wilayah itu berbahaya akibat serangan AS dan Israel.
(rnp/bac)

5 hours ago
6















































