Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat menuduh China memperluas persenjataan nuklir secara masif dan melakukan uji coba nuklir secara diam-diam
Tuduhan ini muncul setelah berakhirnya perjanjian NEW START antara AS dan Rusia, memicu kekhawatiran akan perlombaan senjata baru di dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asisten Sekretaris Negara AS untuk pengendalian senjata, Christopher Yeaw, mengatakan kepada Konferensi tentang Perlucutan Senjata di Jenewa bahwa NEW START memiliki kelemahan serius.
"Tidak memperhitungkan peningkatan persenjataan nuklir China yang belum pernah terjadi sebelumnya, disengaja, cepat, dan tidak transparan," ujar Yeaw, dikutip AFP.
"China telah secara sengaja dan tanpa batas memperluas persenjataan nuklirnya secara masif tanpa transparansi atau indikasi niat maupun titik akhir," tambah dia.
Sementara itu, Duta Besar China Shen Jian menegaskan negaranya menolak pencemaran terus-menerus terhadap kebijakan nuklirnya oleh beberapa negara.
"Beijing tidak akan terlibat dalam perlombaan senjata nuklir dengan negara manapun," tegas Shen.
Saat ini, Rusia dan AS masing-masing memiliki lebih dari 5.000 senjata nuklir. Perjanjian New START sebelumnya membatasi kedua negara untuk memiliki 1.550 hulu ledak, batas yang menurut Washington telah dilampaui Rusia dan mulai didekati China.
Yeaw menyebut pejabat AS meyakini China dapat mencapai keseimbangan kepemilikan senjata nuklir dalam empat atau lima tahun ke depan.
"Beijing berada pada jalur untuk memiliki bahan fosil yang cukup untuk lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada 2030," ujar Yeaw.
Shen membantah klaim itu dan menegaskan kekuatan nuklir China tidak berada dalam level yang sama dengan negara lain.
"Tidak berada dalam level yang sama dengan sejumlah negara yang memiliki persenjataan nuklir terbesar, dan tidak adil, wajar, atau realistis untuk mengharapkan China ikut serta dalam pembicaraan trilateral," ujar Shen.
Berakhirnya New START menandai pertama kalinya tidak ada perjanjian untuk membatasi senjata paling menghancurkan di dunia, sehingga memicu kekhawatiran akan perlombaan senjata baru.
Yeaw menilai batasan numerik dalam perjanjian itu tidak lagi relevan dan menuding Rusia turut berperan dalam meningkatkan kapasitas nuklir China.
(rnp/dna)

15 hours ago
7

















































