AS Kembali Serang Iran, Lokasi Peluncur Rudal-Kapal Jadi Sasaran

17 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Militer Amerika Serikat meluncurkan serangan terbaru ke Iran selatan pada Senin (25/5) waktu setempat. Serangan itu diklaim sebagai bentuk "pertahanan diri".

"Pasukan AS melakukan pertahanan diri hari ini, untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh Iran," kata juru bicara Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), Tim Hawkins, dikutip Fox News.

Menurut laporan, AS menyerang lokasi peluncuran rudal di Iran selatan dan ke kapal-kapal yang mencoba memasang ranjau di laut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Target termasuk lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang mencoba memasang ranjau. Komando Pusat AS terus membela pasukan kami, sambil menahan diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung," lanjut Hawkins.

Serangan ini terjadi saat para negosiator utama Iran tiba di Qatar, untuk melanjutkan negosiasi mengakhiri perang yang dimulai sejak 28 Februari lalu. Selain itu, serangan ini juga mengancam gencatan senjata yang dimulai pada 8 April lalu.

Dilansir AFP, harapan untuk mencapai kesepakatan damai antara AS-Iran juga tersendat, usai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bersumpah untuk menghancurkan Hizbullah di Lebanon. Padahal, Iran menuntut agar setiap kesepakatan damai berlaku juga untuk pertempuran di Lebanon.

Dalam sebuah unggahan di media sosial, Trump juga mengatakan bahwa dia berharap Iran menyerahkan uranium yang diperkaya kepada AS untuk dihancurkan.

"Uranium yang diperkaya (enriched uranium) akan segera diserahkan kepada AS untuk dibawa pulang atau dihancurkan, atau lebih disukai dihancurkan di tempat atau di lokasi lain yang dapat diterima, dengan Komisi Energi Atom atau yang setara, menjadi saksi proses dari peristiwa ini," ujar Trump.

Sebelumnya, Trump juga melontarkan syarat baru untuk berdamai dengan Iran, yakni perluasan penandatanganan perjanjian Abraham Accords oleh negara-negara Arab untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Negara-negara yang dimaksud Trump antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Mesir, Turki, Bahrain, dan Yordania.

Meski Abraham Accords sempat disambut baik beberapa pihak, namun banyak juga yang menolak karena dianggap tak jadi solusi konflik Israel-Palestina.

Negara-negara Teluk berpengaruh seperti Arab Saudi dan Qatar telah menegaskan tidak akan pernah menormalisasi hubungan dengan Israel, kecuali negara Palestina merdeka berdiri.

(dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |