Warga Ukraina Pakai Telegram Lacak Serangan Rudal Rusia

4 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Warga Ukraina kini memanfaatkan fitur saluran atau channel di aplikasi perpesanan Telegram untuk melacak serangan rudal dan drone dari Rusia secara real-time.

Salah satu saluran yang diandalkan adalah Aeris Rimor, yang secara aktif mengirimkan informasi peringatan dini mengenai kemungkinan datangnya rudal.

AFP baru-baru ini mendapat akses langka untuk mengikuti langsung aktivitas di balik layar saluran tersebut, yang dioperasikan oleh seorang administrator dengan nama samaran Esko.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akses liputan pada malam hari itu diberikan dengan syarat identitas asli serta sejumlah detail operasi sang administrator tidak diungkapkan ke publik.

Pria berusia 19 tahun itu biasanya menjalankan aktivitas pemantauannya dari rumah.

Saat situasi serangan sedang sepi, Esko mengisi waktunya dengan menonton serial televisi Criminal Minds atau mengasah kemampuan menerbangkan drone melalui simulator elektronik.

Kala itu, ketegangan muncul 26 enam menit setelah tengah malam. Peringatan serangan udara berbunyi. Tak lama kemudian, sebuah titik merah terlihat bergerak di peta pada layar di depan Esko.

"Oh, ada rudal menuju Kyiv," ujarnya dikutip dari AFP.

Ia kemudian beralih ke Telegram dan segera mengirim pesan kepada 150 ribu pengikutnya dengan peringatan bertuliskan "TARGET KYIV!".

Esko juga menambahkan informasi rudal akan menghantam Kyiv sekitar satu menit lagi beserta rincian nama-nama distrik yang menjadi sasaran potensial.

Beberapa detik kemudian, suara ledakan terdengar di seluruh ibu kota. Titik merah di layarnya sempat menghilang dari peta, tetapi kembali muncul tak lama kemudian

"Benar-benar harus terus berjaga dan menatap layar sepanjang waktu karena Anda bisa dengan mudah melewatkannya," ujar Esko yang tampak tidak kesulitan melakukannya walau harus bersiaga hingga larut malam.

Dalam praktiknya, Esko memantau peta langsung yang sebenarnya digunakan oleh unit pertahanan udara Ukraina.

Ikon-ikon merah yang menunjukkan pergerakan drone Rusia akan tersebar di seluruh peta dan baru menghilang setelah drone tersebut berhasil ditembak jatuh oleh angkatan udara Ukraina.

Berbagai saluran pemantauan semacam ini sebenarnya beroperasi dalam wilayah abu-abu secara hukum karena menggunakan informasi langsung dari kontak di dalam tubuh angkatan udara, meskipun secara umum masih ditoleransi oleh pihak berwenang.

Terkait hal ini, Esko memilih untuk tidak mengungkapkan kepada publik mengenai bagaimana cara pastinya ia bisa mendapatkan akses rahasia ke peta militer tersebut

Terlebih, Rusia kini semakin sering meluncurkan rudal balistik dalam serangan malam hari yang dapat melaju hingga ribuan kilometer per jam dan mencapai Kyiv hanya dalam waktu tiga menit setelah sirene peringatan berbunyi.

Situasi yang serba cepat ini menimbulkan dilema tersendiri yang terus menghantui warga di ibu kota.

Mereka dipaksa memilih antara pergi ke tempat perlindungan bawah tanah seperti stasiun metro dengan konsekuensi harus menjalani malam yang terganggu dan tidur dalam keadaan setengah sadar.

Pilihan lainnuya, mereka tetap berada di rumah dengan risiko terkena serangan, terutama bagi mereka yang tinggal di gedung-gedung bertingkat pada distrik sasaran

Terkadang, pihak berwenang memberikan peringatan beberapa jam sebelum kemungkinan serangan terjadi.

Berbagai saluran Telegram yang menyaring data intelijen ini pada akhirnya membantu menutup kesenjangan informasi dengan memberikan prakiraan harian mengenai kemungkinan berbagai jenis serangan.

Esko mengaku masyarakat sering menghubunginya secara langsung untuk meminta saran.

"Anda hanya bisa mengatakan: sesuatu mungkin terjadi... tetapi putuskan sendiri," ujar Esko.

Keberadaan saluran-saluran ini sangat krusial bagi warga, seperti yang dialami oleh Kateryna Reshetnyk pada suatu malam baru-baru ini ketika terdapat sinyal beragam mengenai kemungkinan serangan Rusia.

Ia akhirnya memutuskan pergi berlindung ke stasiun kereta bawah tanah berdasarkan analisis paralel dari beberapa saluran Telegram yang selama ini dinilai memberikan informasi yang benar.

Perempuan berusia 34 tahun itu menyiapkan kursi lipat di samping pintu putar bersama ibu dan neneknya untuk dijadikan tempat tidur selama beberapa jam ke depan.

"Tetapi tidak ada yang tahu pasti apa yang akan atau tidak akan terjadi. Anda hanya mengandalkan intuisi dan naluri untuk bertahan hidup," ujar Reshetnyk.

Di sekelilingnya, ratusan orang lainnya melakukan hal serupa dengan membawa alas tidur, tenda, bantal, hingga peliharaan anjing mereka.

"Kami memantau apa yang sedang terjadi dan di mana lokasinya karena kerabat, teman, dan kolega kami tersebar di seluruh Kyiv dan wilayah sekitarnya. Jadi setidaknya kami memahami apa yang terjadi dan di mana," ujar Reshetnyk.

Menyikapi fenomena ini, pihak Angkatan Udara Ukraina secara terbuka menyatakan sikap menoleransi keberadaan kanal-kanal pemantauan sipil tersebut meski dengan berat hati.

"Kami tidak bisa melarang mereka. Mereka ada, mereka memberikan informasi kepada masyarakat, dan bagi sebagian orang hal itu memang memudahkan," ujar juru bicara Yuri Ignat kepada AFP.

Namun, ia turut memberikan peringatan tegas kepada para pengelola saluran agar senantiasa berhati-hati dan tidak mengunggah informasi berlebihan yang dapat digunakan oleh pihak musuh untuk melawan Ukraina.

Dengan masyarakat membuat keputusan yang berpotensi menentukan hidup dan mati berdasarkan unggahannya, Esko mengaku sangat merasakan beratnya tanggung jawab di pundaknya.

Sebagian besar hidup pemuda itu kini dihabiskan di depan layar untuk memantau pergerakan ratusan drone dengan jatah waktu tidur hanya beberapa jam saja.

Meskipun melelahkan, ia mengaku lebih menyukai malam-malam yang sibuk dengan serangan daripada periode tenang yang justru memicu kegelisahan ketika Rusia dicurigai sedang menimbun persenjataan untuk serangan berikutnya.

"Anda terus menunggu, menunggu, menunggu, kemudian mulai mengunggah peringatan karena ketegangan meningkat. Namun, tidak terjadi apa-apa. Anda mengunggah lagi, dan tidak terjadi apa-apa... Lalu mereka menyerang," ujar Esko.

(dhz/mik)

placeholder

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |