Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Donald Trump kembali memicu kontroversi dengan mengeklaim Selat Hormuz sebagai bagian wilayah baru Amerika Serikat di tengah perang yang masih memanas dengan Iran.
Trump mengunggah pengakuan sepihak itu di media sosial buatannya Truth Social pada Selasa (18/8). Dia merilis peta yang menyertakan Selat Hormuz.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"WILAYAH BARU AS, Selat Hormuz," demikian tulisan dalam peta yang diunggah Trump.
Unggahan yang terdiri dari gambar peta Selat Hormuz dengan lingkaran berwarna biru itu telah mendapat 1,45 ribu komentar dan 14,2 ribu like. Di unggahan terpisah Trump menyebut tak ada negosiasi yang berlangsung antara AS dan Iran soal Selat Hormuz.
Dia lantas mengatakan blokade pasukan AS untuk kapal-kapal Iran di perairan tersebut tetap berlaku sepenuhnya.
"Selat Hormuz terbuka dan beroperasi. Semua ranjau sudah disingkirkan arau diledakkan," kata Trump.
Trump pertama kali mengemukakan gagasan pengambilalihan Selat Hormuz pada Jumat pekan lalu. Dengan nada yang terdengar santai, ia mengatakan bahwa dirinya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah AS.
Padahal, saat ini AS masih berperang dengan Iran yang selama ini mengontrol jalur perdagangan minyak dunia itu. Teheran bersikeras selama ini menegaskan Selat Hormuz sebagai wilayah di bawah kendalinya.
Trump kembali mengangkat gagasan tersebut pada Senin saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval, dengan mengatakan bahwa pengambilalihan itu mungkin merupakan ide yang bagus.
Menanggapi klaim Trump, sejumlah pejabat Iran justru mengejek sang presiden Amerika. Dikutip AFP, Teheran menegaskan bahwa selat tersebut "akan tetap menjadi milik Iran."
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan Trump orang sesat dan sedang berkhayal usai mengeklaim Selat Hormuz.
"Sama seperti Trump yang dengan tepat menulis nama Teluk Persia yang abadi, tak lama lagi khayalan mengenai Selat Hormuz akan dikoreksi atau kita akan mengoreksi khayalan orang yang sesat ini," ujar dia.
Pejabat tinggi keamanan Iran Mohsen Rezaei juga mengejek Trump.
Dia menyebut jarak antara kemampuan AS membuka Selat Hormuz dan klaim wilayah perairan ini lebih jauh dari jarak 7.000 mil atau 11.265 km AS ke Hormuz.
"Selamat datang di tatanan post-Amerika di Teluk Persia," imbuh Rezaei.
Komentar Trump dan tanggapan pejabat Iran muncul saat perang terus membara meski ada gencatan senjata dan nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang.
Pernyataan-pernyataan itu juga muncul saat Iran bernegosiasi dengan Oman untuk membahas pengaturan rute hingga nasib Selat Hormuz di masa depan.
Ini bukan pertama kalinya Trump mengancam akan mencaplok wilayah negara lain ketika menghadapi hambatan dalam kebijakan luar negerinya.
Sejak kembali berkuasa pada 2025, ia telah mengancam menjadikan Kanada sebagai negara bagian AS ke-51, merebut Greenland, dan bahkan beberapa kali mengisyaratkan keinginannya untuk mengambil alih Jalur Gaza Palestina.
Namun, hingga kini tidak satu pun dari ancaman tersebut benar-benar diwujudkan.
(isa/rds)

11 hours ago
6

















































