Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan cekcok dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth gegara menipisnya stok amunisi hingga rudal Washington untuk melawan Iran.
Seorang sumber mengatakan kepada Washington Post yang dirilis pada Rabu (5/8) bahwa Trump bertengkar dengan Hegseth pada Jumat (31/7) lalu saat rapat kabinet di Camp David.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump disebut marah kepada Hegseth karena ia tidak tahu-menahu tentang masalah menipisnya stok amunisi yang berpotensi membatasi manuver militer AS di Iran.
Trump mengatakan bahwa ia mengira masalah amunisi "sudah diselesaikan" dan karena fakta ini, ia merasa telah disesatkan.
Menurut Washington Post, masalah amunisi AS ini tampaknya menjadi salah satu alasan Trump batal melancarkan serangan terhadap Iran yang ia sebut "serangan terbesar sejak Perang Dunia II". Serangan itu mestinya dilakukan akhir pekan lalu.
Washington Post menemukan bahwa pada bulan pertama AS berperang dengan Iran, lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk dan lebih dari 1.000 rudal Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) telah ditembakkan. Setidaknya 1.300 rudal balistik taktis juga telah dikerahkan.
Pada Selasa (4/8), Reuters melaporkan bahwa Angkatan Darat AS telah menggunakan "hampir seluruh" persediaan rudal jarak jauhnya untuk melawan Iran.
Amunisi jarak jauh ini memungkinkan militer untuk melakukan serangan akurat dari jarak aman.
Saat ditanya mengenai data stok senjata, Gedung Putih memberikan pernyataan Trump, yang menyebut bahwa AS memiliki "jauh lebih banyak amunisi daripada siapa pun di dunia".
AS juga diklaim memiliki jauh lebih banyak senjata dari yang dibutuhkan.
Gedung Putih sementara itu sudah buka suara mengenai laporan Washington Post. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada Rabu menyatakan laporan tersebut palsu dan bahwa berita itu ditulis untuk menjatuhkan Hegseth.
"Saya berada di Camp David bersama Presiden Trump dan Menteri Hegseth. Cekcok itu benar-benar tidak pernah terjadi. Kami bahkan sudah mengatakannya kepada Washington Post berulang kali," ujar Leavitt di unggahan media sosial X.
"Kisah bohong ini disebar ke banyak media oleh seseorang yang jelas-jelas berniat menjelekkan Menteri, entah karena alasan apa. Sayangnya, Presiden menyukai Menteri dan berpikir dia melakukan pekerjaan yang luar biasa," pungkas Leavitt.
(blq/bac)

1 hour ago
4

















































