Muazin Masjidil Haram Wafat, Akhir Sang Pengumandang Adzan Subuh

9 hours ago 8

Jakarta, CNN Indonesia --

Muazin Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi, Syekh Ibrahim Al Madani, meninggal dunia pada Senin (21/9) dini hari.

Al Madani meninggal pada usia 50 tahun setelah mengabdi sebagai salah satu muazin Masjidil Haram sejak 2017.

Kabar wafatnya Al Madani dilaporkan oleh Inside the Haramain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adzan terakhir Al Madani di Masjidil Haram terdengar pada panggilan pertama salat Subuh, Senin (21/9).

Inside the Haramain juga membagikan rekaman yang memperlihatkan Masjidil Haram dan Ka'bah ketika suara adzan Al Madani terdengar melalui pengeras suara masjid, beberapa jam sebelum ia meninggal dunia.

Shalat jenazah Al Madani dijadwalkan berlangsung setelah salat Asar pada Senin (21/9) di Masjidil Haram. Jenazahnya kemudian akan dimakamkan di Pemakaman Al Mualla, Mekkah.

Al Madani lahir di Madinah pada 1976.

Ia tumbuh dalam keluarga religius. Kakeknya merupakan seorang penghafal Al-Qur'an yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanannya.

Ia mulai mengumandangkan azan ketika berusia 15 tahun di sebuah masjid di lingkungan tempat tinggalnya di Madinah. Saat itu, Al Madani menjalankan tugas tersebut secara bergiliran bersama tiga tetangganya hingga menyelesaikan kuliah.

[Gambas:Video CNN]

Setelah itu, ia sempat berhenti menjadi muazin karena harus menjalankan pekerjaan mengajar di luar Madinah.

Pada 1428 Hijriah atau 2007-2008, Al Madani kembali mengumandangkan adzan di Masjid Al Maddah. Pengabdiannya di masjid tersebut kemudian membawanya ke Masjidil Haram.

Al Madani resmi diangkat sebagai salah satu muazin Masjidil Haram pada 1439 Hijriah atau 2017-2018. Sejak saat itu, ia menjadi bagian dari jajaran muazin yang bertugas mengumandangkan adzan di masjid paling suci bagi umat Islam tersebut.

Al Madani merupakan salah satu dari 24 muazin utama Masjidil Haram. Setiap hari, enam muazin mendapat giliran untuk mengumandangkan adzan lima shalat wajib dan adzan pertama untuk shalat Subuh.

Ia dikenal terutama karena azan Subuh dan takbiratnya.

Selain mengumandangkan azan, Al Madani juga bertugas melakukan tabligh, yakni menyampaikan takbir dan gerakan imam kepada jamaah melalui sistem pengeras suara Masjidil Haram.

Latar belakangnya di Madinah turut mempengaruhi gaya azannya.

Sejak kecil, Al Madani terbiasa dengan tradisi adzan yang berkembang di Madinah. Namun, kunjungannya ke Mekkah bersama sang ayah membuatnya mengenal gaya adzan khas Mekkah.

Dalam wawancara di podcast Ashraqat, Al Madani pernah mengenang pengalaman pertamanya mengumandangkan adzan di Masjidil Haram.

Ia mengaku terharu hingga menangis ketika melihat jamaah melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah sambil mendengar suara adzannya.

Al Madani juga mengenang perasaan tidak percaya ketika mendapat kesempatan mengumandangkan adzan di tempat suci tersebut.

Ia bahkan pernah bertanya kepada dirinya sendiri, "Siapakah saya sehingga berani bersuara di tempat suci ini?," demikian laporan The Siasat Daily.

Dalam wawancara itu, Al Madani juga menjelaskan perbedaan tradisi adzan Mekkah dan Madinah. Kedua tradisi tersebut turut memengaruhi gaya azan yang ia gunakan selama menjadi muazin Masjidil Haram.

(mge/bac)

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |