Trump dan Putin Sowan ke Xi Jinping, China Beri Kesan 'Who's the Boss'

16 hours ago 8

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden China Xi Jinping tampak memberi kesan penegasan 'Who's the Boss' atau bos sebenarnya sebagai negara super power dunia.

Itu setelah kepala negara seperti Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkunjung ke Beijing dalam waktu berdekatan.

Putin berkunjung ke Beijing pada 19-20 Mei, sementara Trump melawat ke negara ini di pekan sebelumnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

China-Rusia memang memiliki hubungan diplomatik yang kuat, sementara China-AS relasinya cenderung panas-dingin terutama di tengah perang di Timur Tengah.

Peneliti di Program Rusia dan Eurasia di Chatham House Timothy Ash mengatakan kunjungan dari kepala negara adidaya itu membuat Xi Jinping tampak punya kartu as.

"Putin lebih membutuhkan ini daripada Xi. Rusia sekarang menjadi mitra junior dan bergantung, setelah perang Putin yang membawa bencana di Ukraina," kata Ash kepada Al Jazeera, Selasa (19/5).

Ash juga menilai kunjungan Putin mungkin bertujuan mencari peningkatan dukungan militer dari China.

Banner Microsite Haji 2026

"Seperti halnya Trump yang meminta-minta kepada Beijing, begitu pula Putin. China memegang kendali penuh," ungkap dia.

Hal lain yang membuat pertemuan beruntun ini tampak signifikan karena China memposisikan diri sebagai juru bicara yang sangat diperlukan dalam tatanan internasional yang kian terpecah.

Peneliti bidang studi pertahanan di King's College London Marina Miron mengatakan China berusaha memposisikan diri sebagai mediator, semacam pemain netral, tanpa musuh dalam bentuk apa pun.

"China berusaha untuk tidak bersekutu, setidaknya tidak secara terbuka, dengan negara adidaya mana pun, meskipun kenyataannya China jauh lebih dekat dengan Rusia," ujar Miron.

[Gambas:Video CNN]

"Di bidang diplomasi, mereka mencoba menampilkan kenetralan mereka sebagai semacam negara adidaya netral," imbuh dia.

Posisi China kian kuat melihat negara-negara besar seperti Rusia dan Amerika Serikat terlibat dalam perang.

Sejak 2022, Rusia berlerang dengan Ukraina. Sementara itu, AS dan sekutunya Israel perang dengan Iran mulai 28 Februari lalu. China sangat mungkin mencuri perhatian dunia dengan memposisikan diri sebagai negara penengah.

Dalam pertemuan kepala negara AS-China itu, mereka membahas kerja sama perdagangan, teknologi kecerdasan buatan, isu soal Taiwan, hingga ketegangan di Timur Tengah.

Menyoal Iran, Trump dan Xi sepakat Selat Hormuz harus tetap dibuka demi pelayaran minyak global.

Trump juga mengeklaim Xi berjanji menghentikan pasokan senjata militer ke Iran. Di sisi lain, AS gagal membujuk China untuk menekan Teheran dengan ekonomi agar mundur dari perang.

Sementara itu, dalam pertemuan Xi dan Putin dilaporkan akan membahas penguatan kerja sama perdagangan dan menegaskan kembali sikap China terkait perang di Ukraina.

Miron juga yakin tak ada perubahan signifikan soal Rusia -China terkait pertemuan ini.

"Hubungan bilateral akan semakin erat dalam hal kerja sama ekonomi, bisnis, pertukaran teknologi militer, dan sebagainya," kata Miron.

Analis senior Rusia di Crisis Group, Oleg Ignatov, turut menyuarakan penilaian serupa.

"Hubungan antara kedua negara bersifat strategis, mereka adalah mitra, mitra strategis, tetapi mereka bukan sekutu militer, dan saya tidak mengharapkan mereka akan melangkah lebih jauh," ungkap dia.

Miron memandang kedua pihak bisa memajukan proyek bersama, khususnya di bidang energi. China menginginkan akses ke sumber daya energi Rusia "dengan harga diskon", sementara Rusia bergantung ke banyak teknologi multiguna China, khususnya untuk produksi drone.

Pertemuan Xi dan Putin kemungkinan akan berlangsung lebih dalam serta lebih lama.

Peniliti di Chatam House, Ash, juga menilai jarak yang begitu dekat antara pertemuan Xi-Trump dan Xi-Putin justru menguntungkan presiden Rusia ini.

Lawatan tersebut bisa berarti China tak berencana mengabaikan hubungan dengan Negeri Beruang Merah.

Moskow akan merasa puas secara diam-diam atas hasil pertemuan puncak Trump-Xi yang dianggap gagal.

"China tidak memberikan apa yang diinginkan Trump-mengakhiri perang dengan Iran," kata Ash.

"Moskow akan merasa puas karena Beijing tidak akan meninggalkan Teheran, atau Moskow dalam hal ini," imbuh dia.

(isa/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |