Jakarta, CNN Indonesia --
Taiwan akan meningkatkan persenjataan hingga 1.800 rudal antikapal pada awal 2029, sesuai rencana mereka membangun kekuatan tangguh dan pertahanan dari ancaman China.
Angka tersebut merupakan perhitungan Reuters berdasarkan data perdagangan senjata, dokumen persetujuan ekspor AS, perkiraan pakar, dan wawancara dengan pejabat pemerintah Taiwan.
"Rudal antikapal dapat membangun kemampuan serangan maritim yang kuat dan menurunkan efektivitas tempur musuh. Rincian mengenai penempatannya melibatkan keamanan militer dan tidak diungkapkan," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Taiwan, dikutip Reuters, Kamis (11/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para perwira militer mengatakan pengembangan persenjataan itu merupakan upaya Taiwan menuju strategi asimetris, untuk mengimbangi potensi serangan China. Ini termasuk rudal jarak pendek dan sejumlah besar drone permukaan dan udara.
Mereka mengatakan Taiwan ingin membangun kekuatan untuk bertahan dari gempuran udara dan rudal China di awal perang. Mereka kemudian akan muncul dalam posisi menyerang armada invasi atau pasukan yang mengepung pulau itu.
Senjata andalan Taiwan untuk pertahanan kapal terdiri dari rudal Harpoon buatan AS dan rudal Hsiung Feng buatan dalam negeri.
Wakil kepala eksekutif bidang penelitian di Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional, Ou Si Fu, mengatakan kekuatan besar senjata-senjata tersebut memungkinkan Taiwan membangun "zona pembunuhan" di Selat Taiwan.
"Tujuan kami untuk mencegah mereka mendarat dan menyelesaikan misi mereka, bukan untuk menghancurkan setiap kapal PLA [Tentara Pembebasan Rakyat China]," kata Ou.
Pensiunan kolonel Korps Marinir AS dan peneliti di Forum Studi Strategis Jepang, Grant Newsham, memuji upaya Taiwan. Menurut dia, berinvestasi dalam rudal anti-kapal adalah langkah yang bijaksana.
"Jika Anda adalah China, satu hal yang tidak ingin Anda hadapi yakni senjata presisi jarak jauh yang bisa menghancurkan kapal menjadi dua sebelum berlayar melintasi Selat Taiwan, atau di titik mana pun antara daratan China dan pantai Taiwan," ungkap dia.
Newsham lalu mengatakan jika rudal anti kapal itu digunakan dengan benar dan dalam jumlah yang memadai, rudal tersebut bisa jadi "musuh besar" China.
Ou dan para ahli militer lain mencontoh keberhasilan Ukraina dalam menyerang kapal perang dan kapal pengangkut Rusia dengan rudal dan drone permukaan di Laut Hitam. Mereka memandang strategi tersebut mungkin efektif bagi Taiwan dalam melawan invasi atau blokade China.
Para pendukung jenis peperangan ini berpendapat bahwa rudal anti-kapal, khususnya yang dipasang pada peluncur bergerak berbasis darat, dapat disebar dan disembunyikan di sekitar Taiwan. Hal ini akan mempersulit militer China mendeteksi dan menghancurkan di gelombang awal serangan.
(isa/dna)
Add
as a preferred source on Google

15 hours ago
5
















































