Hillary Clinton Samakan Trump dengan Saddam Husein

5 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton menyamakan Presiden AS Donald Trump dengan mantan diktator Irak, Saddam Hussein.

Asosiasi itu disampaikan Clinton saat bicara dalam podcast yang dipandu jurnalis Kara Swisher, Pivot.

Clinton mulanya ditanya mengenai keputusan Trump merenovasi Gedung Putih. Menurut Clinton, perombakan tersebut menyedihkan karena justru terkesan norak seiring dengan banyaknya dekorasi emas yang digunakan Trump.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini menyedihkan bagi saya, menyedihkan karena sangat norak, dan mencerminkan kepribadian narsistiknya dan kebutuhannya untuk merasa penting, termasuk menempelkan hiasan emas di seluruh dinding Oval Office," kata Clinton dalam wawancara di podcast Pivot, seperti dikutip CNN.

Swisher sempat menimpali desain Gedung Putih kini menyerupai istana Saddam Hussein. Clinton setuju dan mengatakan suasana istana Saddam Hussein memang sangat mirip dengan Gedung Putih sekarang.

"Anda tahu, saat saya berada di Baghdad setelah jatuhnya Saddam Hussein, saya menghadiri sejumlah pertemuan. Saat itu saya masih menjabat sebagai senator. Saya mengadakan pertemuan di beberapa istananya, dan suasananya sangat mirip dengan apa yang kita lihat di Gedung Putih kita sendiri," ujar Clinton.

Pada kesempatan itu, Clinton juga mengomentari keputusan Trump membangun ballroom di Sayap Timur Gedung Putih.

Clinton menegaskan ia prihatin dengan nasib arsitektur Gedung Putih serta tentang bagaimana proyek tersebut ditangani.

"Presiden berikutnya akan menghadapi keputusan besar. Apa yang akan Anda lakukan dengan ballroom yang setengah jadi itu?" kata Clinton.

Ini merupakan komentar terbaru Clinton terhadap keputusan Trump merenovasi Gedung Putih.

Mantan ibu negara tersebut sejak awal tak setuju dengan rencana Trump membangun ballroom karena Sayap Timur Gedung Putih jadi dirobohkan.

Gedung Putih sudah menanggapi komentar Hillary Clinton. Juru bicara Gedung Putih Davis Ingle meledek bahwa Clinton masih belum bisa melupakan kekalahannya dari Trump pada pemilihan presiden 2016 lalu.

"Hillary Clinton tidak pernah memiliki kesempatan untuk menghias Oval Office sebagai presiden karena ia mengalami kekalahan memalukan di tangan Presiden Trump, yang hingga kini belum bisa ia atasi," ujar Ingle.

Sejak kembali ke Gedung Putih pada 2025, Trump telah berupaya meninggalkan warisan di gedung tersebut, dengan menabur emas di setiap sudut Oval Office dan seluruh Sayap Barat.

Pada Desember tahun lalu, ia juga meresmikan "Presidential Walk of Fame" di sepanjang deretan tiang Taman Mawar Gedung Putih, lengkap dengan plakat yang menampilkan sindiran terhadap para pendahulunya. Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan plakat itu ditulis Trump sendiri.

Clinton sempat bercanda di dalam podcast bahwa ia bersedia menjadi menteri yang bertanggung jawab "menurunkan emas" Trump.

"Bukankah itu ide bagus? Menteri yang bertugas membersihkan dan memperbaiki tempat ini," guraunya.

(blq/sfr)

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |