Jakarta, CNN Indonesia --
Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton mengomentari perombakan Presiden AS Donald Trump terhadap dekorasi Gedung Putih.
Clinton menyebut dekorasi Trump 'norak' dan mengingatkannya pada istana milik diktator Irak, Saddam Hussein.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini menyedihkan bagi saya, menyedihkan karena sangat norak, dan mencerminkan kepribadian narsistiknya dan kebutuhannya untuk merasa penting, termasuk menempelkan hiasan emas di seluruh dinding Oval Office," kata Clinton dalam wawancara di podcast Pivot, seperti dikutip CNN.
Clinton mengatakan, Trump adalah seorang pria yang pikirannya tertuju pada 'di mana saya bisa menambah lebih banyak emas?' alih-alih 'bagaimana saya bisa keluar dari Iran tanpa terlihat seperti pecundang sebagaimana saya sebenarnya?'.
Ini merupakan komentar terbaru Clinton terhadap keputusan Trump merenovasi Gedung Putih.
Sebelumnya, mantan ibu negara tersebut mengkritik rencana Trump membangun ballroom karena Sayap Timur Gedung Putih jadi dirobohkan.
"Gedung Putih bukan rumahnya [Donald Trump, tapi] rumah rakyat AS. Dan dia [berusaha] menghancurkannya," ujar Clinton dalam salah satu cuitannya di X.
Dalam siniar yang sama, Clinton turut menyinggung soal ballroom. Ia mempertanyakan nasib ruangan tersebut di tangan presiden berikutnya.
"Presiden berikutnya akan menghadapi keputusan besar. Apa yang akan Anda lakukan dengan ballroom yang setengah jadi itu?" kata Clinton, yang menyebut proyek itu macam 'bisul di sisi Gedung Putih'.
Gedung Putih sudah menanggapi komentar Hillary Clinton. Juru bicara Gedung Putih Davis Ingle meledek bahwa Clinton masih belum bisa melupakan kekalahannya dari Trump pada pemilihan presiden 2016 lalu.
"Hillary Clinton tidak pernah memiliki kesempatan untuk menghias Oval Office sebagai presiden karena ia mengalami kekalahan memalukan di tangan Presiden Trump, yang hingga kini belum bisa ia atasi," kata Ingle.
Sejak kembali ke Gedung Putih pada 2025, Trump telah berupaya meninggalkan warisan di gedung tersebut, dengan menabur emas di setiap sudut Oval Office dan seluruh Sayap Barat.
Pada Desember tahun lalu, ia juga meresmikan "Presidential Walk of Fame" di sepanjang deretan tiang Taman Mawar Gedung Putih, lengkap dengan plakat yang menampilkan sindiran terhadap para pendahulunya. Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan plakat itu ditulis Trump sendiri.
Clinton sempat bercanda di dalam siniar bahwa ia bersedia menjadi menteri yang bertanggung jawab "menurunkan emas" Trump.
"Bukankah itu ide bagus? Menteri yang bertugas membersihkan dan memperbaiki tempat ini," guraunya.
Rencana proyek pembangunan ballroom sendiri kini telah disetop oleh pengadilan banding federal AS. Pengadilan meminta pemerintahan Trump menghentikan rencana pembangunan ruang tersebut.
"Setiap presiden adalah penyewa sementara, bukan pemilik Gedung Putih. [Presiden Donald Trump] tidak dapat mengubah Gedung Putih tanpa persetujuan kongres," bunyi pengadilan di Distrik Columbia Circuit, Washington, mengutip Reuters.
Merespons putusan tersebut, Trump mengaku bakal mengajukan banding ke Mahkamah Agung AS.
"Keputusan yang tidak adil ini harus dibatalkan sepenuhnya oleh Mahkamah Agung," tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.
Menurut Trump, keputusan itu tampak 'mengerikan' dan sarat nuansa politik. Keputusan juga dinilai membuat dirinya beserta pejabat Gedung Putih lainnya lebih rentan terhadap serangan.
(blq/asr)

4 hours ago
2

















































