Jakarta, CNN Indonesia --
Parade militer terbesar di Rusia tahun ini diselenggarakan tanpa melibatkan tank dan rudal balistik.
Parade yang memperingati kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman ini untuk pertama kalinya dalam hampir 20 tahun hanya menghadirkan prajurit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Biasanya, Hari Kemenangan Rusia dirayakan dengan begitu megah dan meriah di Lapangan Merah. Namun, tanggal 9 Mei ini tampaknya menyiratkan kegelisahan Rusia: perang di Ukraina tidak berjalan sesuai rencana.
"Tank-tank kami sedang sibuk saat ini," kata anggota parlemen Rusia Yevgeny Popov kepada BBC.
"Mereka sedang bertempur. Kami lebih membutuhkan mereka di medan perang daripada di Lapangan Merah," ujarnya lagi.
Popov blak-blakan mengakui bahwa Rusia saat ini tak punya pilihan. Negara-negara NATO dan Ukraina, kata dia, "mengancam" Moskow karena perang di Kyiv.
Juru bicara Presiden Rusia Vladimir Putin, Dmitry Peskov, sempat menyinggung soal "ancaman teroris" dari Ukraina. Alasan ini tampaknya digunakan Rusia untuk membenarkan pengurangan skala parade tahun ini.
"Jika rezim Kyiv mencoba menjalankan rencana kriminalnya untuk mengganggu perayaan peringatan ke-81 Kemenangan dalam Perang Patriotik Besar, Angkatan Bersenjata Rusia akan melancarkan serangan rudal balasan besar-besaran ke Kyiv," demikian pernyataan Kemhan Rusia saat mengumumkan keputusan gencatan senjata sepihak pada awal pekan ini.
Putin telah menginstruksikan gencatan senjata dilakukan pada 8-9 Mei 2026. Penghentian serangan ini ditujukan agar Rusia bisa memperingati Hari Kemenangan Perang Dunia II.
"Kami berharap pihak Ukraina mengikuti keputusan ini," demikian pernyataan Kemhan Rusia.
Kendati begitu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tak setuju dengan rencana tersebut dan menetapkan balik tanggal gencatan senjata versi dirinya yakni 5-6 Mei.
"Dalam hal ini, kami mengumumkan bahwa gencatan senjata dimulai pukul 00.00 (2100 GMT) pada malam tanggal 5-6 Mei," kata Zelensky di media sosial X.
Pada Jumat (8/5), Rusia melaporkan telah mencegat sejumlah drone menuju Moskow. Kemhan Rusia juga mengaku telah menghancurkan 350 drone Ukraina pada Kamis (7/5).
Kemhan Rusia pun memperingatkan Ukraina dengan mendesak warga sipil di sekitar misi diplomatik Kyiv pergi dari kawasan tersebut.
Perang Rusia di Ukraina yang telah berlangsung empat tahun tampaknya tak lagi menuai hasil signifikan bagi Kremlin. Perang ini justru semakin merugikan Rusia mengingat pada Senin (4/5), sebuah drone Ukraina menembus pertahanan udara Moskow dan mengantam sebuah apartemen mewah berjarak 6 kilometer dari Kremlin.
Meski tidak ada korban jiwa, terjadi kerusakan parah di lantai atas apartemen bertingkat tinggi tersebut.
(blq/rds)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
6

















































