Jakarta, CNN Indonesia --
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggambarkan pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (28/7) waktu AS sebagai "salah satu percakapan terbaik" yang pernah mereka lakukan.
Netanyahu mengaku dia dan Trump memiliki koordinasi yang erat terkait Iran dan berbagai isu keamanan lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu adalah percakapan yang mencerminkan kemitraan penuh, saling mendukung, dengan pemahaman mengenai tujuan bersama untuk memastikan bahwa Iran tidak akan memiliki senjata nuklir, serta tujuan-tujuan lainnya," kata Netanyahu dalam bahasa Ibrani melalui sebuah video yang dirilis kantornya setelah pertemuan tertutup tersebut.
Dikutip Al Jazeera, menurut pihak AS, Netanyahu meninggalkan Gedung Putih pada pukul 12.25 waktu setempat (ET) setelah pembicaraan yang dimulai pagi waktu AS. Sejumlah pejabat senior dari kedua pemerintahan turut menghadiri pertemuan itu, yang berlangsung tertutup tanpa akses bagi wartawan.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebut pembicaraan tersebut berlangsung "positif dan produktif."
Seorang pejabat Israel mengatakan kedua pemimpin juga membahas kerja sama antara Amerika Serikat dan Israel, serta "berbagai peluang di Timur Tengah."
Puja-puji Netanyahu terhadap Trump dan pertemuannya ini berlangsung kala kabar hubungan di antara keduanya merenggang sejak perang melawan Iran pecah.
Trump dan Netanyahu dikabarkan berbeda pendapat terkait perang melawan Iran. Trump berupaya membuat Iran manut di meja perundingan, sementara Netanyahu ingin terus melancarkan perang terhadap Teheran.
Trump bahkan pernah blak-blakan menilai Netanyahu mempersulit upaya AS melangsungkan negosiasi dengan Iran dan mendesak Israel menghentikan agresinya ke Lebanon. Sebab, gencatan senjata Israel vs milisi Hizbullah di Lebanon menjadi salah satu syarat agar perundingan dengan Iran bisa terus berlanjut.
Trump juga berulang kali menggembar-gemborkan jasanya terhadap Netanyahu dengan menyatakan Israel tidak akan ada hari ini jika dirinya tidak menjadi presiden AS.
Selain itu, sejumlah laporan media baru-baru ini juga menuturkan bahwa kunjungan ketujuh Netanyahu ke Gedung Putih sejak 2025 ini hasil dari "paksaan".
CNN melaporkan Netanyahu telah berupaya mendapatkan undangan ke Gedung Putih guna membahas perkembangan perang dengan Iran selama beberapa pekan terakhir.
Selain terkait perang dengan Iran, Netanyahu memaksa bertemu Trump demi meyakinkan sang presiden AS agar tidak memberikan konsesi diplomatik terhadap Teheran.
Trump disebut awalnya enggan bertemu. Sejumlah pejabat Gedung Putih juga merasa frustrasi atas apa yang mereka anggap sebagai upaya Israel memanfaatkan kebocoran informasi ke media untuk memaksa pertemuan terjadi.
Seorang pejabat AS mengatakan Netanyahu bahkan "berusaha mewujudkan pertemuan" dengan Trump dengan cara membocorkannya terlebih dulu ke media.
Pemakaman Senator AS Lindsey Graham pekan ini akhirnya menjadi kesempatan bagi keduanya untuk bertemu, meskipun pertemuan itu hanya menjadi agenda sampingan dari acara utama.
(rds)
Add
as a preferred source on Google

8 hours ago
3














































