Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, menyatakan Iran sulit dikalahkan oleh Amerika Serikat dan Israel karena keunggulannya dalam beberapa bidang.
Keunggulan itu terlihat dari penguasaan teknologi militer, ilmu pengetahuan, serta mentalitas negara Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, dalam bidang teknologi, JK menyatakan Iran sulit dikalahkan karena memiliki penguasaan teknologi militer.
"Mungkin hari ini Iran diserang, tapi Iran akan melawan. Karena perang sekarang bukan perang orang, perang teknologi. Siapa yang menguasai teknologi, dia yang menang," kata JK dalam kuliah umum di Universitas Indonesia (UI), Depok, Selasa (7/4).
JK kemudian membandingkan kekuatan teknologi yang dimiliki Iran dengan Palestina.
"Kenapa Palestina kalah? Karena teknologinya tidak ada. Kenapa Iran bertahan? Karena teknologi dia kuat. Di bawah gunung dia bikin terowongan, dia bikin (senjata). Di mana (asal) ahlinya? Dari universitas," tegasnya, dikutip Detik.com.
Kedua, JK membahas kekuatan Iran berasal dari bangsa Persia yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia.
"Dalam sejarah Islam, ahli-ahli ilmu sains dan teknologi jaman abad ke-7 ke-8 itu lebih banyak dari Persia. Ahli matematika Al-Khwarizmi orang Persia, ahli kedokteran Ibnu Sina dari Persia, ahli astronomi juga Persia. Jadi memang Persia mempunyai spirit ilmu pengetahuan," tutur JK.
Ketiga, soal mentalitas bangsa Iran. JK menyebut mentalitas itu terbentuk dari sejarah yang berbeda dengan sejumlah negara Arab lainnya.
"Dia (Iran) tidak pernah dijajah. Negara Arab dijajah oleh Inggris dan Prancis, tapi Iran atau Persia tidak," ujarnya.
JK menilai AS kerap memulai konflik sebagai tekanan terhadap negara lain, terutama di Timur Tengah, sekaligus untuk mendorong penjualan senjata.
"Amerika tidak pernah menang perang setelah Perang Dunia Kedua. Di Korea tidak bisa menang, di Vietnam lari terbirit-birit, di Afghanistan lari juga, di Irak juga begitu," kata JK.
JK menyatakan, Iran sadar bahwa AS menggunakan pengaruh ekonomi dan diplomasi senjata. Namun, Iran tidak takut dan masih terus melanjutkan peperangan tersebut.
"Seluruh negara Arab baru sadar bahwa Amerika itu hanya gertak saja supaya bisa bantu macam-macam, akhirnya beli senjata sekian miliar dolar. Karena itu, kalau Anda belajar hubungan internasional, Anda harus tahu sejarah," ujarnya.
Baca selengkapnya di sini.
(rnp/bac)
Add
as a preferred source on Google

9 hours ago
7
















































