Jakarta, CNN Indonesia --
Inggris dan sejumlah negara Eropa menjatuhkan sanksi terkait aktivitas pemukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki.
Namun, respons Amerika Serikat disebut sejumlah pihak di luar dugaan. Washington tidak mengecam langkah tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio belum mengutuk keputusan Inggris, Prancis, Kanada, dan sejumlah negara lain yang menjatuhkan sanksi terhadap permukiman serta pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.
Sikap Trump terhadap sanksi tersebut masih belum jelas, kata para pejabat AS dan mantan pejabat AS kepada CNN.
CNN melaporkan kurangnya kecaman juga patut diperhatikan.
Pasalnya, pemerintahan Trump selama ini dikenal "paling pro-Israel" dalam sejarah. Pada awal masa jabatan keduanya, pemerintahannya bahkan mencabut sanksi yang sebelumnya diberlakukan pemerintahan Joe Biden terhadap sejumlah pemukim Israel yang terlibat kekerasan di Tepi Barat.
Trump juga biasanya memberikan dukungan kuat terhadap kebijakan Israel.
Pada Rabu, ketika ditanya tentang sanksi tersebut, Trump mengambil nada yang tidak biasa. Ia bersikap lebih tertutup, dengan mengatakan bahwa dia akan "berbicara dengan Israel."
Trump juga mengaku mengetahui persoalan tersebut, tetapi ingin memahami alasan di balik keputusan negara-negara tersebut.
"Saya mengerti persis apa yang sedang terjadi, tetapi saya ingin mencari tahu mengapa hal itu tiba-tiba terjadi?" ujarnya.
Inggris diketahui telah memberikan informasi kepada pemerintah AS sebelum mengumumkan sanksi tersebut. Informasi itu disampaikan, antara lain, melalui pembicaraan antara Perdana Menteri Inggris Andy Burnham dan Trump.
Sikap Trump dan Rubio memunculkan dugaan bahwa pemerintahannya mulai merasa tidak nyaman dengan kebijakan Israel di Tepi Barat.
Trump sebelumnya mengatakan tidak akan membiarkan Israel mencaplok Tepi Barat. Namun, Israel terus memperluas permukiman dan memperkuat kendalinya atas wilayah tersebut.
Meski demikian, pemerintahan Trump dinilai sangat kecil kemungkinannya untuk menjatuhkan sanksi langsung terhadap Israel.
Namun, dukungan terhadap sanksi Eropa atau bahkan sekadar melanjutkan kecaman terhadap aktivitas pemukim Israel dapat menjadi tanda ada keretakan antara Washington dan pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menurut berbagai sumber.
Hal itu juga dapat menunjukkan meningkatnya frustrasi Trump terhadap Netanyahu, terutama menjelang pemilihan umum Israel bulan depan.
Mantan Duta Besar AS untuk Israel Daniel Shapiro mengatakan sikap awal Trump dan Rubio setidaknya menunjukkan bahwa pemerintah AS menyadari persoalan kekerasan yang dilakukan kelompok ekstremis Israel di Tepi Barat.
"Setidaknya menunjukkan pengakuan dari pihak pemerintah bahwa kekerasan yang dilakukan oleh ekstremis Israel di Tepi Barat, serta pernyataan dan tindakan para menteri ekstremis dalam pemerintahan Israel, menjadi masalah," kata Shapiro.
Rubio juga tidak ikut mengecam sanksi yang diberlakukan negara-negara tersebut. Namun, ia menyinggung kekhawatiran AS terhadap situasi di Tepi Barat.
"Kami tidak ingin melihat hal-hal yang dapat menggoyahkan stabilitas terjadi di Tepi Barat saat ini, mengingat begitu banyak hal yang terjadi di wilayah tersebut," kata Rubio kepada wartawan pada Selasa.
Menurut Rubio, kondisi di Tepi Barat juga dapat memengaruhi upaya AS untuk mencapai kemajuan dalam penyelesaian konflik Gaza.
"Kami pikir hal itu juga berdampak pada kemampuan kami untuk mencapai kemajuan terkait Gaza dan rencana 20 poin serta Dewan Perdamaian yang sangat kami dukung," ujarnya.
Meski demikian, Rubio menegaskan AS tidak akan mengikuti langkah Inggris.
"Jelas, kami tidak akan melakukan apa yang dilakukan Inggris," kata Rubio.
Namun, ia mengakui pemerintah AS telah menerima informasi mengenai keputusan Inggris dan mendengar alasan di balik kebijakan tersebut.
"Kami telah diberitahu bahwa mereka akan membuat keputusan ini. Kami telah mendengar argumen mereka tentang alasannya," ujar Rubio.
Gedung Putih kemudian mengarahkan CNN pada pernyataan Trump ketika dimintai komentar mengenai kebijakan tersebut.
Sikap Trump dan Rubio berbeda dengan pernyataan Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee. Ia sebelumnya menuduh pemerintah Inggris melakukan "kebencian terhadap Yahudi" terkait kebijakan tersebut.
Huckabee juga memperingatkan bahwa keputusan Inggris dapat berdampak besar terhadap sejumlah perusahaan Inggris.
Namun, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pernyataan Huckabee tidak dikoordinasikan dengan Gedung Putih maupun Departemen Luar Negeri AS.
Mantan pejabat senior AS mengatakan respons Huckabee sejalan dengan pandangannya selama bertahun-tahun mengenai Israel, permukiman Yahudi, dan Tepi Barat.
"Mungkin itu yang dia harapkan, karena banyak orang mungkin mengharapkan hal yang sama sebagai respons awal dari pemerintah, berdasarkan sejarah mereka dan pandangan yang pernah mereka ungkapkan sebelumnya," kata mantan pejabat tersebut.
Lebih lanjut, AS juga belum secara terbuka mengecam rencana Israel untuk mengembangkan proyek permukiman E1. Proyek tersebut dinilai dapat membagi Tepi Barat menjadi wilayah utara dan selatan sehingga semakin sulit bagi negara Palestina yang berkesinambungan untuk terbentuk.
Proyek E1 juga dinilai dapat memisahkan Yerusalem Timur dari wilayah Tepi Barat lainnya. Yerusalem Timur selama ini menjadi bagian dari wilayah yang diharapkan menjadi ibu kota negara Palestina di masa depan.
Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich secara terbuka mendukung perluasan pemukiman tersebut. Ia bahkan mengatakan pembangunan permukiman merupakan cara untuk "mengubur" gagasan negara Palestina.
"Negara Palestina sedang dihapus dari meja perundingan bukan dengan slogan tetapi dengan tindakan," kata Smotrich.
Israel merebut Yerusalem Timur dan Tepi Barat dalam perang 1967. Kedua wilayah tersebut dianggap sebagai wilayah pendudukan berdasarkan hukum internasional, sementara permukiman Israel di wilayah itu secara luas dinilai ilegal oleh masyarakat internasional.
Shapiro menilai Trump sebenarnya memiliki pengaruh terhadap Netanyahu untuk mendorong perubahan kebijakan Israel di Tepi Barat.
Menurutnya, Trump dapat menggunakan isu kekerasan pemukim untuk menekan Netanyahu, terutama karena Netanyahu membutuhkan dukungan Trump menjelang pemilihan umum Israel.
"Netanyahu sangat menginginkan dukungan Trump, secara eksplisit jika memungkinkan, secara implisit jika tidak, dan tentu saja tidak ingin dia membuat pernyataan yang menyiratkan bahwa Trump berpikir segalanya akan lebih baik dengan pemerintahan yang berbeda," kata Shapiro kepada CNN.
"Saya pikir Trump memiliki banyak pengaruh, tetapi saya rasa dia belum benar-benar menggunakannya," ujarnya.
Seorang mantan pejabat senior AS lainnya juga meragukan Netanyahu dapat mengendalikan para pemukim sebelum pemilihan.
Ia menyebut sanksi yang direncanakan negara-negara Barat sebagai "tembakan peringatan". Namun, pejabat AS lainnya mempertanyakan efektivitas sanksi tersebut.
"Sanksi yang diberlakukan sekarang ini menggalang dukungan orang-orang untuk Israel dan sebagian untuk Netanyahu, memperkuat argumennya bahwa dunia sekarang menentang kita," kata pejabat tersebut.
(mge/bac)

5 hours ago
5














































