Jakarta, CNN Indonesia --
Film dokumenter NAZA mengungkap kesaksian 24 orang dari kalangan militer dan intelijen Israel mengenai sistem rahasia yang digunakan dalam pembunuhan massal terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.
Film karya sutradara Israel peraih Oscar, Yuval Abraham dan Rachel Szor, diputar dalam Festival Film Internasional Venesia pada Kamis (10/9).
NAZA menjadi satu-satunya film dokumenter yang masuk dalam kompetisi utama untuk memperebutkan penghargaan bergengsi Golden Lion.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Judul NAZA berasal dari akronim militer Israel yang digunakan secara terselubung untuk merujuk pada warga sipil yang diperkirakan akan tewas dalam sebuah serangan.
Film tersebut diproduksi bersama The Guardian dan menampilkan kesaksian sejumlah perwira intelijen serta tentara Israel yang terlibat dalam operasi pengawasan dan pembunuhan jarak jauh terhadap warga Palestina.
Para narasumber diwawancarai secara anonim karena risiko yang dapat mereka hadapi jika identitas dan aktivitas mereka selama perang diketahui publik. Wawancara dilakukan pada malam hari di sejumlah atap gedung di Tel Aviv.
Penampilan dan suara para narasumber juga diubah secara digital untuk melindungi identitas mereka.
Membeberkan sejumlah metode
Dalam film itu, para narasumber membeberkan sejumlah metode yang digunakan militer Israel selama perang di Gaza. Salah satunya adalah sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) yang digunakan untuk mengidentifikasi dalam jumlah besar target yang diduga merupakan anggota Hamas berpangkat rendah.
Target-target tersebut kemudian dapat diserang ketika berada di rumah mereka pada malam hari. Para narasumber mengatakan militer mengetahui bahwa serangan tersebut berpotensi menewaskan anggota keluarga target yang berada di dalam rumah.
Militer Israel juga disebut menggunakan peretasan telepon untuk mengetahui lokasi target. Dalam sejumlah kasus, aparat bahkan disebut dapat mendengarkan percakapan target dengan istri dan anak-anak mereka sebelum serangan dilakukan.
Kesaksian tersebut juga menggambarkan kehancuran sejumlah kawasan permukiman di Gaza. Para narasumber menceritakan hingga 25 persen penduduk masih berlindung di rumah mereka, pembakaran rumah warga secara sistematis serta pembunuhan warga sipil di lokasi distribusi makanan.
Salah satu narasumber disebut pernah bekerja di unit intelijen rahasia yang melapor langsung ke kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Narasumber tersebut bahkan mengatakan bahwa salah satu misi unitnya adalah "menggagalkan perdamaian".
Sutradara Yuval Abraham mengatakan pembuatan film tersebut dilakukan dengan meminta para mantan pejabat dan tentara menjelaskan secara langsung bagaimana sistem yang mereka gunakan bekerja.
"Kami hanya memberi tahu para petugas ini: 'Tolong jelaskan kepada kami apa yang Anda lakukan. Bagaimana sistem ini bekerja? Gambarkan kepada kami.' Terkadang, hanya dengan mengajukan pertanyaan, Anda mendapatkan jawabannya," kata Abraham dalam konferensi pers di Venesia, Kamis (10/9).
Ia mengatakan para narasumber memiliki sikap yang berbeda terhadap pekerjaan mereka.
"Sebagian dari mereka tidak menunjukkan penyesalan dan sebagian lainnya menunjukkan penyesalan. Sebagian berbicara karena acuh tak acuh, sebagian lagi karena kesombongan," ujarnya.
Abraham dan Szor mengatakan mereka membuat NAZA karena merasa memiliki tanggung jawab sebagai pembuat film dan jurnalis Israel untuk mengungkap sistem di balik kematian warga sipil Palestina.
"Kami membuat film ini karena rasa kewajiban untuk menggunakan posisi kami sebagai pembuat film dan jurnalis Israel untuk meneliti sistem di balik pembunuhan massal warga sipil Palestina yang menjadi tanggung jawab negara kami," kata keduanya.
Mereka menegaskan film tersebut tidak berfokus pada "kejahatan perang sporadis yang dilakukan oleh tentara nakal".
"Fokusnya adalah pada perintah itu sendiri, kebijakan, praktik yang diterima, bahasa dan logika yang memungkinkan praktik-praktik tersebut, dan orang-orang yang beroperasi di dalamnya," kata mereka.
"Sistem dan roda penggeraknya," lanjutnya.
Bersambung ke halaman berikutnya...

9 hours ago
4















































