Jakarta, CNN Indonesia --
Kalangan Generasi Z di India menggelar demonstrasi besar-besaran selama beberapa pekan ke belakang ini dengan membentuk Cockroach Janata Party (CJP) atau Partai Kecoak. Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan yang didesak mundur menyusul skandal kebocoran ujian.
Partai Kecoak yang dibentuk para demonstran adalah sindiran terhadap partai pimpinan Perdana Menteri India Narendra Modi, yaitu Bharatiya Janata Party (BJP). Kepolisian setempat merespons aksi ini dengan kekerasan. Peserta demonstrasi dipukuli, sehingga menimbulkan korban luka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut fakta-fakta demonstrasi Gen Z Partai Kecoak di India:
1. Tuntutan demo
Demonstrasi yang dihiasi topeng kecoak ini dipicu oleh kebocoran soal ujian masuk fakultas kedokteran yang mengharuskan lebih dari 2 juta peserta mengikuti ujian ulang
Demonstran juga memprotes angka pengangguran yang tinggi dan lapangan kerjaan yang minim. Mereka pun meminta Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan untuk mundur dari jabatannya.
Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi pun buka suara terkait tuntutan para demonstran. Modi mengatakan akan menghukum mereka yang berada di balik kebocoran ujian masuk sekolah kedokteran. Dia juga meminta parlemen untuk menciptakan sistem ujian anti curang.
Kemarahan dan protes kelompok muda terkait ujian ini menjadi tantangan terbesar Modi di masa jabatan ketiga.
2. Respons Menteri
Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan mengatakan pemerintahan Narendra Modi berkomitmen untuk mengatasi kekhawatiran Generasi Z dan mendiskusikan ujian seleksi masuk sekolah kedokteran (NEET).
"Pemerintah kami tetap 100 persen berkomitmen untuk membahas NEET dan mengatasi setiap kekhawatiran yang sah dari kaum muda kami di parlemen," kata dia pada Selasa (21/7), dikutip Reuters.
Pradhan lantas menyinggung demo tersebut ditunggangi politikus lain yang ingin melemahkan pemerintahan saat ini.
"Para mahasiswa di India pantas mendapatkan perlakuan yang jauh lebih baik daripada hanya dijadikan alat dalam kampanye politik," ungkap dia.
Pernyataan Pradhan merujuk ke seruan ketua partai oposisi Partai Kongres, Rahul Gandhi, yang memanfaatkan demo itu dan meminta para mahasiswa bergabung dalam protes. Pradhan menyebut pemerintah berutang ke para pelajar untuk menjelaskan lebih lanjut tuntutan mereka.
"Kita berutang kepada mereka jawaban, reformasi, dan akuntabilitas. Itulah tepatnya yang menjadi komitmen pemerintah kita untuk diwujudkan," ujar dia.
A man holds an Indian national flag as he participates in a demonstration in solidarity with Cockroach Janta Party (CJP) protests held at Jantar Mantar in New Delhi, which demand the resignation of India's Education Minister Dharmendra Pradhan over exam paper leaks, in Kolkata, India, July 24, 2026. REUTERS/Sahiba Chawdhary TPX IMAGES OF THE DAY Foto: REUTERS/Sahiba Chawdhary
3. Kekerasan oleh Polisi
Aksi ini diwarnai kekerasan aparat kepolisian setempat. Ribuan pelajar di India long march menggeruduk gedung parlemen di New Delhi. Namun, kepolisian New Delhi menanggapi dengan kekerasan. Pendiri CJP Abhijeet Dipke sampai-sampai meminta maaf karena banyak korban luka.
"Saya meminta maaf ke semua pendukung kami, terutama ke para perempuan yang dipukuli secara brutal oleh polisi laki-laki," kata Dipke pada Senin (20/7), dikutip DW.
Dipke juga mengatakan salah satu peserta aksi dalam kondisi kritis imbas serangan polisi.
Per Senin, sekitar 180 orang dilaporkan mengalami luka-luka dan 70 orang ditangkap. Dalam pernyataan resmi, CJP berjanji akan memberi bantuan hukum ke para korban yang ditangkap sewenang-wenang.
Pusat utama demonstrasi berada di Jantar Mantar, kompleks observatorium bersejarah abad ke-18 di New Delhi yang berdekatan dengan Gedung Parlemen.
Sejak Senin, massa juga menduduki sebagian ruas Parliament Street, jalur penghubung vital antara Gedung Parlemen dan area bisnis Connaught Place.
Eskalasi bentrokan dan kerusuhan sempat memuncak di Jantar Mantar awal pekan ini. Polisi mengalau massa yang mencoba menerobos menuju Gedung Parlemen menggunakan gas air mata serta pukulan tongkat (baton-charge).
Kepolisian New Delhi menyatakan mereka tidak memberikan izin resmi untuk aksi tersebut dan memberlakukan larangan berkumpul berdasarkan Pasal 163 BNSS.
4. Internet diputus
Pemerintah India memutus akses internet seluler akibat demonstrasi ini. Pemutusan ini telah berlangsung setidaknya selama lima hari berturut-turut
Mengutip Reuters, para pengunjuk rasa mengungkapkan kekecewaan mereka atas perpanjangan pemutusan akses tersebut, namun bertekad untuk tidak membiarkan hal itu melemahkan gerakan mereka.
"Mereka bisa memutus akses internet, layanan kereta metro, dan bus, tapi apa hasilnya? Tidak ada. Orang-orang yang ingin bergabung dalam protes akan tetap datang," ujar seorang pengunjuk rasa, Rahul Raj.
Tindakan aparat penegak hukum dan langkah pemerintah memutus jaringan internet seluler di area demonstrasi menuai kecaman keras dari organisasi hak asasi manusia internasional, seperti Human Rights Watch dan Amnesty International, yang menilai tanggapan polisi berlebihan.
Pembatasan tidak hanya menyasar akses internet. Pihak berwenang juga berupaya membatasi akses menuju lokasi protes di pusat kota Delhi. 18 stasiun metro kota tersebut telah ditutup selama berhari-hari.
5. Menteri Pendidikan India mundur
Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya. Pradhan mengumumkan pengunduran dirinya di platform X pada Sabtu (25/7), tepat ketika polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa aksi di New Delhi.
"Melihat situasi yang terjadi di Jantar Mantar dan di seluruh negeri, serta agar kekuatan anti-nasional tidak memanfaatkan situasi ini, saya telah mengirimkan surat pengunduran diri saya kepada Perdana Menteri (Narendra Modi)," ujar Pradhan dalam unggahannya dikutip dari Aljazeera.
Pradhan menyatakan bahwa ia tidak ingin puluhan ribu siswa yang menuntut pengunduran dirinya dimanfaatkan oleh 'kelompok anti-nasional'.
Keputusan Pradhan mundur juga menyusul langkah PM Narendra Modi yang berjanji akan mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku kebocoran soal ujian.
Pada malam yang sama, aktivis terkemuka India Sonam Wangchuk menghentikan aksi mogok makan yang telah ia jalani selama 26 hari. Aksi tersebut sebelumnya digelar untuk menekan pemerintah agar segera merespons tuntutan massa.
Meski demikian, para aktivis mahasiswa menegaskan aksi turun ke jalan tidak akan berhenti sampai tuntutan utama mereka dipenuhi secara menyeluruh.
(afp/end)
Add
as a preferred source on Google

9 hours ago
5















































