Jakarta, CNN Indonesia --
Virus Ebola ganas varian langka, Bundibugyo, menyebar sangat cepat di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo).
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) melaporkan penyebaran virus Ebola varian tersebut kini menyebabkan angka kematian yang sangat tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebaran tersebut, menurut laporan WHO yang dikutip dari AFP, sulit ditekan meski upaya untuk mengatasi virus itu semakin dipercepat.
WHO menyatakan masih berpacu untuk mengatasi situasi yang memburuk di timur laut RD Kongo.
"Wabah ini tetap serius dan berkembang sangat cepat," kata kepala penanganan darurat WHO untuk Afrika, Marie Roseline Belizaire,
"Namun, saya telah melihat respons yang semakin kuat setiap hari," ujarnya di Jenewa, berbicara dari pusat wabah tersebut di Bunia, ibu kota provinsi Ituri, RD Kongo.
Otoritas RD Kongo menyatakan terjadi kemunculan wabah Ebola pada 15 Mei, meski penularan kemungkinan besar terjadi tanpa terdeteksi beberapa waktu sebelumnya.
Wabah ini disebabkan oleh strain Bundibugyo yang langka, yang belum ada vaksin atau pengobatan khusus untuknya.
Sejauh ini berdasarkan laporan terbaru WHO, terdapat 896 kasus yang terkonfirmasi di RD Kongo, termasuk 232 kematian yang terkonfirmasi, dengan 21 kasus kematian baru dalam 24 jam terakhir.
Sebesar 90 persen lebih kasus wabah Ebola yang terdeteksi ini terjadi di Ituri, provinsi yang hingga sekarang masih dilanda konflik bersenjata.
Wabah ini juga telah menyebar ke provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan.
Belizaire mengatakan epidemi ini berkembang sangat cepat sehingga respons yang diberikan harus berpacu untuk mengimbangi penyebaran virus, yang menyebar melalui kontak dekat dan cairan tubuh yang terinfeksi.
Ia menyebutkan bahwa jumlah tempat tidur perawatan yang tersedia untuk pasien Ebola telah meningkat dari nol menjadi lebih dari 500.
Lebih lanjut, Belizaire membeberkan, tim pengawasan saat ini tengah menyelidiki hampir 400 peringatan dan mampu melakukan lebih dari 2.000 tes per hari.
Ia juga menyoroti bahwa upaya untuk melacak kontak dari kasus Ebola yang diketahui telah meningkat, dengan 75 persen dari semua kontak sekarang telah dihubungi.
WHO menyatakan bahwa 95 persen kontak harus dilacak untuk mengatasi wabah ini.
Belizaire mengatakan beberapa orang yang jatuh sakit tetap tinggal di rumah, kemudian pergi ke tabib tradisional, sebelum akhirnya pergi ke pusat kesehatan, sehingga menunda akses ke pengobatan.
Di RD Kongo, sebanyak 78 orang telah pulih setelah tertular Ebola, yang disebutnya sebagai "pengingat yang kuat bahwa diagnosis tepat waktu dan akses ke perawatan kesehatan berkualitas dapat menyelamatkan nyawa".
(bac)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
2

















































