Jakarta, CNN Indonesia --
China membantah tuduhan Amerika Serikat yang menyatakan negara itu melakukan uji coba nuklir secara rahasia, pada Senin (9/2).
Pemerintah China menyebut klaim itu sebagai "kebohongan terang-terangan" dan menuduh Washington mencari alasan untuk memulai kembali uji coba nuklirnya sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tuduhan AS sama sekali tidak berdasar dan merupakan kebohongan terang-terangan. China menentang keras upaya AS untuk menciptakan alasan bagi dimulainya kembali uji coba nuklirnya sendiri," ujar Kementerian Luar Negeri China, seperti dikutip CNA.
China juga menekankan agar AS "segera menghentikan tindakan yang tidak bertanggung jawab."
Tuduhan itu sebelumnya disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Pengendalian Senjata, Thomas DiNanno, dalam Konferensi Disarmament Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat lalu.
Ia menuding China telah melakukan uji coba nuklir, termasuk yang terjadi pada 22 Juni 2020.
"Hari ini, saya bisa mengungkap Pemerintah AS mengetahui China telah melakukan uji coba nuklir eksplosif, termasuk mempersiapkan uji coba dengan daya ledak ratusan ton," kata DiNanno, seperti dikutip CNN.
"China melakukan salah satu uji coba nuklir dengan daya ledak tersebut pada 22 Juni 2020," tambah dia.
DiNanno menuduh militer China berusaha "menyembunyikan uji coba dengan mengaburkan ledakan nuklir karena menyadari bahwa tes ini melanggar komitmen larangan uji coba."
"China menggunakan decoupling, metode untuk mengurangi efektivitas pemantauan seismik, untuk menyembunyikan aktivitas mereka dari dunia," lanjutnya.
Menurut para ahli, decoupling dilakukan dengan menggali gua besar untuk mengurangi aktivitas seismik dari ledakan nuklir, sehingga lebih sulit terdeteksi.
Pernyataan DiNanno disampaikan saat ia memaparkan rencana baru AS untuk mengadakan pembicaraan tiga pihak dengan Rusia dan China.
Tujuannya adalah menetapkan batas baru senjata nuklir setelah berakhirnya perjanjian New START antara Washington dan Moskow.
Klaim AS ini muncul sehari setelah perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Washington dan Moskow, New START, berakhir.
Berakhirnya perjanjian tersebut membuat kedua negara adidaya nuklir itu tidak lagi memiliki batasan persenjataan untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.
Trump dan pejabat tinggi lainnya menegaskan bahwa mereka tidak akan lagi mematuhi batasan perjanjian itu dan mendorong kesepakatan baru yang mencakup China dan Rusia.
(rnp/bac)

7 hours ago
6
















































