Jakarta, CNN Indonesia --
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan dengan tegas bahwa semua warga Israel yang ditemukan di negaranya akan diusir.
Dalam pernyataan kepada wartawan pada Rabu (15/7), Anwar menyampaikan pemerintah Malaysia tidak akan berkompromi dan akan mendeportasi warga negara Israel yang terdeteksi memasuki Malaysia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menegaskan posisi Malaysia yang tidak pernah mengakui Israel.
"Kami sedang menyelidiki. kami tidak mengizinkannya. Jika ada, tentu saja ada tindakan yang harus diambil. Apabila ada warga negara Israel, mereka akan segera diusir (dari Malaysia) karena kami tidak mengakui (negara) mereka," kata Anwar, seperti dikutip Bernama.
Bagaiman cara mendeteksi warga Israel?
Anwar bicara tentang penyelidikan terkait dugaan bahwa warga Israel terdeteksi memasuki Malaysia dengan dua dokumen kewarganegaraan. Aksi itu terdeteksi di negara bagian Johor.
Anwar menegaskan masalah ini sedang ditangani pihak berwenang dan kementerian terkait akan segara menyampaikan detailnya.
"Semua lembaga telah melakukan penyelidikan. Saya yakin Menteri Pendidikan Tinggi Datuk Seri Dr Zambry Abdul Kadir akan memberikan jawaban," katanya.
Kasus ini mencuat dari unggahan warga Malaysia sendiri lewat media sosial. Mereka curiga ada "Kampung Israel" dalam program komunitas teknologi di Forest City, Johor.
Setelah ramai jadi pembicaraan, aparat keimigrasian pun turun tangan. Aparat gabungan dan Departemen Imigrasi Malaysia melakukan peninjauan lapangan serta menyisir ratusan paspor dari berbagai negara.
Hasilnya, mereka telah memeriksa 266 warga negara asing dari 40 negara di lokasi tersebut dan menemukan bahwa semuanya memiliki dokumen perjalanan yang sah.
Namun, para pejabat mengatakan bahwa penyelidikan lebih lanjut mengenai identitas dan aktivitas mereka yang terlibat masih berlangsung, seperti dikutip dari laman Jerusalem Post.
Sementara media online Malaysia Kosmo, mewawancarai pakar Geostrategi dan Senior Fellow dari Nusantara Academy of Strategic Research (NASR), Profesor Dr Azmi Hassan, yang mengungkapkan bahwa tuduhan warga Israel memasuki Malaysia menggunakan paspor dari negara lain dapat diselidiki jika identitas individu yang terlibat telah diidentifikasi oleh pihak berwenang.
Azmi Hassan mengatakan bahwa individu dengan kewarganegaraan ganda biasanya menggunakan paspor dari negara selain Israel ketika memasuki Malaysia dan otoritas imigrasi hanya mengkonfirmasi keabsahannya. Karena itu, aparat berwenang memeriksa ratusan warga asing, izin tempat usaha, akomodasi, hingga penggunaan lahan guna mencari ketidakcocokan data identitas.
Dalam kasus ini, investigasi berpusat pada Network School, sebuah komunitas hunian bersama untuk para pendiri startup dan pekerja digital nomaden yang didirikan oleh mantan eksekutif Coinbase, Balaji Srinivasan.
Proyek yang berlokasi di kawasan pengembangan Forest City yang didukung China di seberang Selat Johor dari Singapura ini, menjadi sorotan setelah sebuah video promosi daring menarik perhatian luas.
Melansir Channel News Asia (CNA), Menteri Besar Johor Onn Hafiz Ghazi mengatakan pemerintah daerah telah menerima berbagai laporan dan kekhawatiran publik. Hal ini mengenai aktivitas sebuah komunitas yang mengusung konsep tempat tinggal sekaligus pusat pembelajaran bagi pendiri startup, pekerja jarak jauh (remote worker), dan kreator konten.
(imf/bac)
Add
as a preferred source on Google

15 hours ago
5
















































