Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Donald Trump mengeklaim Amerika Serikat menguasai penuh Selat Hormuz dan memperingatkan Iran akan menghadapi serangan 100 kali lebih keras jika kembali menyerang AS,
"Kami sepenuhnya mengendalikan, kami memiliki, dalam arti yang sebenarnya, kami memiliki Selat Hormuz," kata Trump dilansir dari Fox News, Jumat (14/8).
Trump mengatakan AS saat ini menerapkan blokade yang disebutnya sebagai "tembok baja" di kawasan tersebut. Menurut dia, kapal hanya dapat memasuki Selat Hormuz jika diizinkan oleh AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami hanya mengizinkan kapal masuk jika kami menginginkan mereka masuk," ujarnya.
Trump mengeklaim blokade tersebut telah menyebabkan Iran kehilangan pemasukan hingga ratusan juta dolar AS setiap hari. Dia juga menyebut sanksi ekonomi yang diberlakukan AS turut menekan pemerintahan Teheran.
"Jika mereka menyerang, kami akan menyerang balik 100 kali lebih keras," kata Trump.
Trump juga mengatakan dirinya tidak khawatir konflik dengan Iran akan memengaruhi posisi politiknya menjelang pemilu paruh waktu AS. Dia menyinggung harga bensin serta upaya pemerintahannya mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
"Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ini sangat sederhana," kata Trump.
Trump kemudian kembali menegaskan klaimnya mengenai blokade di Selat Hormuz.
"Kami memiliki blokade yang seperti tembok baja. Tidak ada yang pernah melihat sesuatu seperti ini," ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump sebelumnya mengatakan akan menyatakan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah Amerika Serikat setelah mengalahkan Iran. Trump menyampaikan rencana tersebut dalam sebuah rapat di akademi kepolisian New York.
"Setelah kita selesai mengalahkan Iran yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump, seperti dikutip AFP.
AS dan Israel telah melancarkan perang terhadap Iran sejak 28 Februari lalu dengan tujuan yang diklaim untuk mengakhiri program nuklir Teheran. Iran kemudian membalas serangan tersebut dan membangun kendali de facto atas sebagian besar wilayah Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pengiriman energi global dan komoditas lainnya. Hingga kini, AS dan Iran masih terlibat kebuntuan terkait akses pelayaran di kawasan tersebut.
Iran menolak membuka kembali jalur pelayaran bagi sebagian besar kapal sipil, sementara Angkatan Laut AS melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari upaya menekan perekonomian negara tersebut.
Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz hampir lumpuh total hingga Jumat (14/8) setelah dua kapal kembali diserang di perairan tersebut.
Iran juga menolak klaim Trump bahwa AS memiliki kendali penuh atas selat tersebut. Teheran menyatakan tidak akan mengizinkan jalur itu kembali dibuka hingga sejumlah syarat dipenuhi, termasuk pencabutan sanksi ekonomi dan pelepasan aset Iran yang dibekukan.
Di tengah kebuntuan tersebut, Trump berulang kali mengancam akan meningkatkan tekanan terhadap Iran. Namun, awal pekan ini ia mengisyaratkan akan lebih mengandalkan langkah ekonomi untuk menekan Teheran ketimbang tindakan militer.
(lau/dna)

3 hours ago
1
















































