Sejarah Krakatau, Mengapa Begitu Penting hingga Diperhatikan Dunia?

3 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Gunung Krakatau punya sejarah panjang berabad-abad hingga berevolusi menjadi Gunung Anak Krakatau.

Aktivitasnya juga mengundang perhatian dunia bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka.

Situs Britannica menyebut cikal-bakal Gunung Krakatau terbentuk di antara lempeng tektonik India-Australia dan Eurasia. Selama jutaan tahun, aktivitas di dalam perut bumi membentuk gunung berbentuk kerucut dengan tinggi 300 meter di bawah permukaan laut dan diproyeksikan mencapai 1.800 meter di atas permukaan laut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ilmuwan memperkirakan Gunung Krakatau sempat erupsi besar pada 416 masehi dan menghancurkan bagian puncak sekaligus membentuk kaldera dengan diameter 6 kilometer.

Kaldera tersebut juga memunculkan empat pulau kecil di Selat Sunda yakni Sertung di bagian Timur Laut, Lang dan Polish Hat di sisi Barat Laut, dan Rakata di bagian selatan sekaligus punya dataran tertinggi di antara lainnya.

Seiring berjalannya waktu dan aktivitas vulkanik, keempat pulau kecil tersebut menyatu dan membentuk gunung setinggi 813 meter di atas permukaan laut. Gunung inilah yang disebut Krakatau.

Aktivitas Gunung Krakatau meningkat di abad ke-17 hingga ke-19. Puncaknya terjadi pada 27 Agustus 1883 pukul 10.00 waktu setempat. Ledakan tersebut dikisahkan terdengar sampai 3.500 kilometer di Australia. Asap dari Gunung Krakatau disebut mencapai 80 kilometer dan abunya menyebar hingga 800 ribu kilometer persegi.

Getaran berupa gempa juga dikabarkan terasa hingga Hawaii dan Amerika Selatan. Korban jiwa tragedi ini dilaporkan mencapai 36 ribu jiwa.

Perhatian dunia kemudian mengarah ke letusan Gunung Krakatau. Ini karena suhu global sempat menurun sekitar 0,5 hingga 1,2 derajat Celcius selama beberapa tahun sejak letusan. Warna langit saat siang hari diceritakan juga lebih merah dan bulan bersinar dengan nuansa warna biru.

Letusan Gunung Krakatau dikabarkan juga menginspirasi seniman asal Norwegia, Edvard Munch, dengan lukisan 'The Scream' pada 1893. Siluet warna langit dan ekspresi ketakutan pada lukisan disebut menggambarkan situasi saat itu.

Erupsi Krakatau baru benar-benar mereda pada 1927. Setahun kemudian muncul puncak baru yang menyentuh permukaan laut. Hingga pada 1930 terbentuk lagi puncak berbentuk kerucut yang dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau dengan tinggi 300 meter.

Gunung Anak Krakatau sempat erupsi hebat pada 22 Desember 2018 yang menyebabkan tsunami di Provinsi Banten dan Lampung. Kejadian ini sempat mengikis tinggi Gunung Anak Krakatau menjadi 100 meter di atas permukaan laut.

Status Gunung Anak Krakatau belakangan kembali meningkat. Sejak 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan Gunung Anak Krakatau berstatus Level III atau Siaga.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau menanjak pada Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB. Aliran lava terlihat dari perairan Selat Sunda. Sebaran abu juga mencapai lintas wilayah seperti Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Media asing turut menyoroti Gunung Anak Krakatau. Ini karena jalur penerbangan di wilayah terdampak sementara ditutup termasuk untuk pesawat internasional dan domestik.

(ikw/bac)

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |