Jakarta, CNN Indonesia --
Iran disebut bisa mengancam Korea Selatan jika mereka betul-betul bergabung dengan pasukan yang dipimpin Amerika Serikat di Selat Hormuz.
Pakar politik Iran Mohammad Marandi mengatakan Teheran akan menganggap Seoul musuh jika mereka bergabung dengan AS untuk melawan negara Timur Tengah itu.
Marandi menyebut keterlibatan Korea Selatan dalam upaya mengamankan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz akan mengekspos kepentingan mereka di kawasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika Korea Selatan berpartisipasi dalam perang melawan Iran ini, Iran akan menganggapnya sebagai musuh," kata Marandi saat berbicara di Al Mayadeen, demikian dikutip Middle East Eye, Minggu (6/9).
Dia lalu berujar, "Teheran akan berupaya menghancurkan aset apa pun yang dimiliki Korea Selatan di wilayah ini."
Target-target tersebut belum tentu berupa instalasi militer. Marandi menduga bisa saja target itu berupa serangan ke aset Korsel di Kuwait, Qatar, atau Bahrain.
"Jadi, Korea sangat rentan terhadap Iran. Iran bisa melukai mereka dengan sangat parah," lanjut dia.
Lebih lanjut, Marandi mengatakan potensi kontribusi tersebut kemungkinan besar tak akan mengubah jalannya konflik dan Korea Selatan punya sedikit kemampuan militer untuk berkontribusi kepada AS.
"Apa gunanya satu atau dua kapal dari Korea Selatan? Itu tindakan yang bodoh," kata dia.
Marandi memperingatkan partisipasi apa pun dapat memiliki implikasi ekonomi yang jauh melampaui aset militer
Komentar pakar itu muncul saat Korsel mempertimbangkan untuk mengerahkàn pasukan ke Selat Hormuz sebagai upaya memulihkan navigasi. Kepresidenan Korea Selatan mengatakan berbagai opsi sedang dipertimbangkan.
Lebih lanjut, kepresidenan Korsel mengatakan opsi umum kemungkinan mencakup kontribusi militer, termasuk partisipasi tempur, peran non-tempur, dan operasi pencarian,
"Harap diperhatikan bahwa belum ada keputusan apa pun mengenai kontribusi aktual," demikian pernyataan Korsel.
Korsel bergantung pengiriman yang melintasi Selat Hormuz untuk 61 persen impor minyak mentah dan 54 persen impor nafta.
(isa/dna)

4 hours ago
3















































