Jakarta, CNN Indonesia --
Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyamakan argumen Israel untuk melancarkan agresi brutal di Jalur Gaza Palestina hingga menewaskan puluhan ribu anak-anak dengan genosida yang dilakukan Nazi terhadap orang Yahudi (Holocaust) saat Perang Dunia II.
Pelapor Khusus PBB untuk situasi hak asasi manusia di Palestina, Francesca Albanese, menyampaikan pernyataan tersebut melalui unggahan di X pada Sabtu (19/9) sebagai respons atas pernyataan model Israel, Sarai Givaty, dalam wawancara dengan stasiun televisi berbahasa Ibrani, i24NEWS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam wawancara itu, Givaty mengatakan dirinya tetap merasa sedih melihat anak-anak Palestina menderita.
Namun, ia juga menyebut anak-anak tersebut dapat tumbuh menjadi teroris jika tidak ada tindakan terhadap mereka.
"Apakah mungkin bagi saya untuk tidak merasa sedih atas setiap anak yang menangis di dunia?" kata Givaty.
"Saya sedih. Tetapi saya juga menyadari bahwa jika kita tidak bertindak, anak ini akan tumbuh menjadi teroris," lanjutnya.
Dalam unggahannya, Albanese kemudian membagikan potongan wawancara tersebut dan menanggapi pernyataan Givaty.
"(Anak-anak akan tumbuh dewasa.) Ini juga merupakan argumen yang digunakan oleh para pejabat Nazi selama persidangan Nuremberg untuk membenarkan mengapa mereka membunuh anak-anak selama Holocaust," tulis Albanese seperti dikutip Middle East Monitor (MEMO).
Pernyataan Albanese kembali menyoroti sikap tegasnya terhadap tindakan Israel di Jalur Gaza.
Selama perang Gaza, Albanese telah mengeluarkan sejumlah laporan dan pernyataan yang mengkritik kebijakan serta operasi Israel di wilayah tersebut.
Sikap Albanese sebelumnya juga mendapat tekanan dari Amerika Serikat (AS).
Pada Juli 2025, Washington menjatuhkan sanksi terhadap Albanese terkait upayanya mendorong Mahkamah Pidana Internasional mengambil tindakan terhadap pejabat, perusahaan, serta eksekutif AS dan Israel.
AS sebelumnya juga meminta Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mencopot Albanese dan menuduhnya melakukan "antisemitisme".
Di tengah pernyataan tersebut, jumlah korban anak di Gaza juga menjadi sorotan.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan lebih dari 21.500 anak telah tewas sejak perang dimulai pada Oktober 2023.
"Pendudukan terus menumpahkan darah orang-orang tak berdosa, khususnya anak-anak. Jumlah anak yang tewas sejak dimulainya perang genosida pada 7 Oktober 2023 telah melampaui 21.500 jiwa per 24 Agustus," kata kantor tersebut.
Kantor tersebut menyebut angka itu sebagai "korban yang dahsyat" dan menggambarkannya sebagai "kebrutalan kejahatan terorganisir ini".
(mge/rds/bac)

5 hours ago
2














































