Kemunculan Perdana Duterte di Sidang ICC Bikin Syok, Alami Amnesia

9 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte menjadi sorotan menyusul kemunculannya ke publik untuk pertama kali dalam sidang Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) pada Rabu (16/9), setelah 18 bulan terakhir di tahan mahkamah tersebut.

Kemunculan Duterte dalam sidang dakwaannya terkait kampanye perang melawan narkoba semasa menjabat presiden itu menuai perhatian, bahkan membuat syok sejumlah pihak lantaran penampilannya berubah drastis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengenakan setelan jas gelap dan kemeja putih tanpa dasi, mantan presiden berusia 81 tahun tersebut terlihat duduk dengan tenang bahkan sesekali melontarkan senyuman selama sidang berlangsung.

Namun, yang jadi perhatian adalah perawakannya yang berubah cukup drastis dari terakhir kalinya ia terlihat dalam sidang pertama yang saat itu digelar secara virtual melalui sambungan video.

Dalam sidang kemarin, perawakan Duterte terlihat semakin kurus dan tua. 

Dalam dokumen yang dipublikasikan pada Selasa, tim pengacara Duterte bahkan mengatakan bahwa klien mereka itu mengalami amnesia atau hilang ingatan.

Tim kuasa hukum menuturkan Duterte mengalami "gangguan memori yang signifikan sehingga membuatnya tidak mampu mempertahankan informasi baru dan mengakses kembali ingatan secara andal".

Hasil pemeriksaan tersebut belum dipublikasikan, tetapi tim pembela Duterte mengutip hasil sejumlah pemeriksaan yang tercantum dalam laporan tersebut.

Menurut para pengacara, pemeriksaan menunjukkan bahwa Duterte mengira dirinya hidup pada 2007 atau 2008, mengira usianya 84 atau 85 tahun, serta tidak dapat mengingat nama presiden AS saat ini.

Para hakim pun mempertimbangkan apakah Duterte secara mental layak untuk menjalani persidangan dan telah memerintahkan pemeriksaan medis oleh tiga orang ahli.

Ini merupakan sidang tatap muka langsung yang dihadiri Duterte sejak ditahan ICC. Pria berusia 81 tahun itu sebelumnya hadir melalui sambungan video ketika pertama kali dibawa ke pengadilan di Den Haag tersebut.

Sejak saat itu, Duterte melewatkan sejumlah persidangan dengan tim kuasa hukum mengatakan bahwa kliennya itu terlalu sakit untuk hadir.

Sementara itu, dalam sidang kemarin, Hakim Joanna Korner mengizinkan Duterte dapat meninggalkan persidangan kapan saja tanpa perlu meminta izin kepada majelis hakim.

Namun, Duterte tetap berada di ruang sidang sepanjang persidangan yang berlangsung selama satu jam 15 menit. Ia tidak menunjukkan emosi dan tampak mengikuti jalannya persidangan melalui headphone.

Duterte tidak berbicara selama persidangan, tetapi melambaikan tangan ke arah galeri publik setelah hakim meninggalkan ruang sidang pada akhir persidangan.

Ia merupakan mantan kepala negara Asia pertama yang menghadapi persidangan di ICC, pengadilan yang menuntut individu atas kejahatan-kejahatan paling berat di dunia, seperti kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Duterte menghadapi tiga dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan. Jaksa menuduhnya terlibat dalam sedikitnya 76 pembunuhan antara 2013 dan 2018 selama operasi pemberantasannya terhadap pengguna dan pengedar narkoba.

Persidangan pada Rabu merupakan "sidang status" yang digelar untuk membahas berbagai hal administratif dan menetapkan rincian logistik sebelum persidangan dimulai.

Para pengacara terlibat perdebatan mengenai bukti yang diajukan jaksa. Jaksa mengatakan terdapat sekitar 15.000 barang bukti, sementara pihak pembela menyebut jumlah dokumen tersebut mencapai lebih dari 62.000.

"Jumlahnya benar-benar sangat besar. Ini tidak mungkin," kata salah satu pengacara Duterte, Peter Haynes.

Haynes mengatakan mereka "tidak mungkin sempat membaca" tumpukan dokumen sebanyak itu sebelum persidangan dimulai.

"Kondisi perkara saat ini berantakan. Jika klien saya lebih muda dan lebih sehat, saya akan meminta Anda menunda persidangan selama enam bulan... tetapi dia tidak demikian," kata Haynes.

(rds)

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |