Jakarta, CNN Indonesia --
Akhirnya dunia akan memiliki peta resmi baru bumi setelah pemungutan suara atau voting di sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengunggulkan opsi agar Afrika digambarkan dengan besar yang riil.
Suara mayoritas dalam voting di Majelis Umum PBB, Jumat (4/9), itu akan mendorong pemerintah, sekolah, dan perusahaan teknologi di seluruh dunia untuk berhenti menggunakan peta yang membuat Afrika tampak jauh lebih kecil daripada ukuran sebenarnya.
Resolusi PBB untuk peta yang sebenarnya atau 'Correct the Map' itu mengevaluasi gambaran dunia tentang ukuran benua Afrika di dalam peta selama lebih dari 450 tahun terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Resolusi itu diajukan negara-negara Afrika yang tergabung dalam Uni Afrika (African Union/AU) dan Bahama. Resolusi itu akhirnya didukung suara 164. Satu suara memilih tidak, dan enam abstain.
Mengutip dari situs publikasi resmi PBB, UN News, satu-satunya negara yang memilih tidak atas resolusi itu adalah Amerika Serikat (AS).
"Amerika Serikat memberikan satu-satunya suara menentang, menolak inisiatif tersebut sebagai bagian dari 'proyek ideologis radikal'," demikian dikutip dari situs tersebut, Sabtu (5/9).
Sementara enam negara yang abstain adalah Estonia, Georgia, Lithuania, Moldova, Serbia, dan Ukraina.
Togo--salah satu negara di Afrika--yang memimpin resolusi itu diterima meminta dunia menggunakan peta yang lebih akurat dalam perbandingan ukuran benua. Mereka menolak proyeksi peta Mercator yang digunakan sejak abad ke-16.
Walaupun demikian, resolusi itu tidak melarang proyeksi Mercator atau memaksakan penggantinya. Sebaliknya, dikutip dari UN News, resolusi tersebut mendorong pemerintahan dunia, sekolah, organisasi internasional, dan perusahaan teknologi untuk menggunakan proyeksi peta yang riil atau Equal Earth.
Equal Earth dinilai lebih akurat menggambarkan ukuran benua-benua di dunia.
"Peta membentuk pemahaman kita tentang dunia," kata Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, sebelum pemungutan suara.
"Peta membimbing pendidikan, menumbuhkan imajinasi, dan memengaruhi persepsi kolektif," sambungnya.
Mengutip dari Aljazeera, peta mercator yang selama berabad-abad dipakai dunia dikembangkan kartografer bernama Gerardus Mercator pada abad ke-16.
Proyeksi tersebut mendistorsi ukuran relatif daratan dengan memperbesar daratan yang lebih dekat ke kutub. Misalnya, proyeksi tersebut membuat Greenland tampak hampir sama ukurannya dengan Afrika. Padahal, sejatinya Afrika berukuran sekitar 14 kali lebih besar dari Greenland.
Beberapa kritikus peta Mercator percaya bahwa peta tersebut tetap banyak digunakan karena secara visual melebih-lebihkan dan memusatkan negara-negara Barat, sehingga dinilai melanggengkan gagasan superioritas Eropa.
"Dunia yang adil dimulai dengan peta yang adil," kata Dussey saat diwawancara Reuters jelang pemungutan suara pada Jumat pekan ini.
Alasan AS menolak
Sementara itu, AS--satu-satunya negara yang menyatakan tidak untuk resolusi tersebut--melihatnya sebagai hal yang politis sehingga negara pemilik suara hak veto di Dewan Keamanan PBB itu menolaknya.
"Resolusi ini mengejek kerja dan tujuan lembaga ini," kata perwakilan AS dikutip dari UN News.
Pihak AS menyatakan itu adalah sebuah proyek ideologis. Perwakilan tersebut menyoroti referensi resolusi terhadap reparasi dan "keadilan kognitif.
Dia menyebut inisiatif seperti itu sebagai "pengganggu pekerjaan kita di sini dan alasan mengapa lembaga ini [PBB] kehilangan kredibilitasnya."
Dukungan dari Prancis
Sementara itu Prancis beberapa jam sebelum pemungutan suara menegaskan mendukung resolusi tersebut. Bahkan, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot mengumumkan bahwa Paris berencana untuk meninggalkan Mercator dan beralih ke Equal Earth.
Pergeseran ini berarti Prancis sendiri--seperti Amerika Serikat dan Rusia--akan tampak lebih kecil dibandingkan dengan negara-negara khatulistiwa.
Hal ini menggambarkan dinamika yang tidak biasa dari perdebatan yang telah berlangsung selama beberapa dekade ini. Peta dengan luas yang sama tidak membuat Afrika menjadi lebih besar; Mereka menghilangkan pembesaran yang diberikan Mercator pada daratan yang lebih dekat ke kutub.
Sementara itu Ukraina, abstain karena keberatan dengan cara beberapa peta yang menggunakan Equal Earth menggambarkan wilayah Ukraina yang diduduki Rusia.
Perwakilan Ukraina di majelis umum PBB itu memperingatkan bahwa mendukung proyeksi tersebut tanpa pengamanan yang memadai dapat membuka "kotak Pandora," yang memungkinkan peta untuk menciptakan ambiguitas atas wilayah yang dipersengketakan.
Sementara Uni Eropa mendukung resolusi tersebut, namun menyampaikan kekhawatiran yang sama dengan Ukraina.
Berbicara atas nama blok tersebut, Irlandia menekankan bahwa langkah tersebut hanya berlaku untuk ukuran relatif daratan dan tidak berpengaruh pada kedaulatan, status teritorial, atau perbatasan yang diakui secara internasional.
Blok tersebut juga mengatakan dukungannya tidak merupakan dukungan terhadap peta yang ditampilkan di situs web Equal Earth.
(kid)

1 hour ago
1
















































