Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat (AS) kini menempatkan tiga kapal induk sekaligus di kawasan Timur Tengah dan sekitar Iran, level pengerahan tertinggi dalam lebih dari dua dekade terakhir.
Penambahan terbaru datang dari kapal induk kelas Nimitz, USS George H W Bush, di tengah belum jelasnya akhir perang Iran dan Presiden Donald Trump menolak memberi tenggat penyelesaian konflik.
Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Kamis (23/4) mengumumkan USS George H W Bush resmi masuk ke area tanggung jawab operasi militer Amerika di Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kehadirannya membuat Washington kini memiliki tiga kapal induk utama yang mengepung kawasan Iran dari beberapa sisi.
Masuknya USS George HW Bush dibaca para analis bukan sekadar rotasi biasa, melainkan sinyal tekanan tambahan kepada Teheran menjelang kemungkinan pembicaraan damai baru.
"Potensi keterlibatan kapal induk ketiga saja sudah menambah tekanan terhadap rezim Iran saat pembicaraan damai mendekat. Pesannya, Trump bisa memberikan rasa sakit yang lebih besar bila negosiasi tidak berjalan sesuai keinginannya," kata pensiunan kapten Angkatan Laut AS Carl Schuster, melansir CNN.
1. USS George H W Bush
USS George H W Bush merupakan kapal induk terbaru dari keluarga Nimitz-class dan mulai dioperasikan pada 2009. Kapal ini memiliki panjang hampir 1.000 kaki atau sekitar 333 meter, dengan bobot lebih dari 100 ribu ton.
Bush ditenagai dua reaktor nuklir sehingga mampu berlayar sangat lama tanpa perlu pengisian bahan bakar rutin. Di atas dek, kapal ini dapat membawa lebih dari 80 pesawat tempur dan helikopter, serta diawaki sekitar 5.500 personel gabungan pelaut dan kru udara.
Yang membuat Bush sangat diperhitungkan adalah kemampuannya mengoperasikan jet tempur generasi terbaru F-35, memberi daya gempur lebih modern untuk misi serangan presisi maupun dominasi udara.
Bush berlayar dari Norfolk, Virginia, pada 31 Maret lalu dan mengambil rute memutar melewati Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika untuk menghindari Laut Merah dan Terusan Suez yang rawan gangguan kelompok Houthi pro-Iran.
2. USS Abraham Lincoln
Kapal induk kedua yang sudah lebih dulu berada di sekitar Iran adalah USS Abraham Lincoln. Kapal ini juga berasal dari kelas Nimitz, sehingga profil fisiknya mirip dengan Bush, yakni panjang sekitar 333 meter, bobot tempur di atas 100 ribu ton, dan kapasitas puluhan pesawat tempur.
Sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, Lincoln diposisikan di Laut Arab, tepat di selatan Iran. Posisi ini strategis karena memungkinkan jet-jet tempurnya menjangkau Selat Hormuz, Teluk Oman, hingga pesisir selatan Iran dalam waktu singkat.
Lincoln berfungsi sebagai unsur tekanan permanen sekaligus payung operasi laut jika Iran kembali menutup jalur pelayaran energi dunia.
3. USS Gerald R Ford
Kapal induk ketiga adalah USS Gerald R Ford yang sudah ditempatkan sejak Juni tahun lalu dan sempat terlacak berada di Laut Merah pekan ini.
Ford merupakan kapal induk tercanggih dan terkuat milik Angkatan Laut AS saat ini. Ukurannya sedikit lebih besar dari kelas Nimitz dengan panjang sekitar 337 meter, sistem peluncur pesawat elektromagnetik generasi baru, radar mutakhir, serta efisiensi sortie pesawat lebih tinggi.
Meski sempat mengalami kebakaran pada ruang laundry pada Maret lalu dan menjalani perbaikan di Mediterania, Ford kini kembali aktif bertugas.
Kehadiran Ford sangat penting karena kapal ini menjadi pusat komando udara untuk Laut Merah dan jalur Bab al-Mandab, sementara Lincoln menjaga Laut Arab dan Bush menjadi bala bantuan baru yang bisa dipakai untuk serangan tambahan atau menggantikan kapal lain yang sudah terlalu lama bertugas.
Konsentrasi Kekuatan Laut Terbesar AS
Seorang pejabat AS menyebut Washington saat ini juga memiliki 19 kapal perang lain di Timur Tengah dan tujuh kapal di Samudra Hindia. Jumlah itu belum termasuk USS George H W Bush beserta kapal perusak pengawalnya.
Artinya, jika Bush benar-benar tambahan baru dan bukan sekadar pengganti rotasi, maka pengerahan ini menjadi salah satu konsentrasi kekuatan laut terbesar AS sejak invasi Irak 2003.
Kala itu, lima kapal induk AS diterjunkan untuk operasi 'shock and awe'. Kini, tiga kapal induk kembali dikumpulkan di dekat Iran, sebuah angka yang menunjukkan Washington sedang menyiapkan opsi militer lebih besar bila gencatan senjata runtuh.
Secara sederhana, satu kapal induk sebenarnya cukup untuk operasi blokade laut.
Namun dua hingga tiga kapal induk memberi kemampuan berbeda, yakni serangan udara berlapis, rotasi pesawat tanpa henti, pengintaian elektronik, perlindungan kapal dagang, hingga opsi menghantam target cepat Iran di Selat Hormuz.
Apalagi sejumlah sumber menyebut Pentagon sedang menyiapkan rencana serangan baru terhadap kapal cepat Iran, kapal penebar ranjau, dan aset asimetris Teheran bila gencatan senjata kolaps.
(sfr/sfr)
Add
as a preferred source on Google

6 hours ago
5
















































