Jakarta, CNN Indonesia --
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah kembali menjadi sorotan kala negaranya dilanda bencana banjir bandang dan longsor namun menolak bantuan SAR dari negara lain.
Hampir 400 orang tewas dan 1.400 orang lainnya hilang terutama turis mancanegara imbas bencana banjir dan longsor ini.
Pejabat senior Kementerian Luar Negeri Nepal mengatakan pemerintah menerima banyak permintaan resmi dan tak resmi dari berbagai negara serta organisasi untuk mengerahkan tim penyelamatan. Salah satunya India, tetapi Nepal menolak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami juga menerima permintaan serupa dari China dan negara-negara lain, tapi kami menolak permintaan tersebut," kata pejabat Kemlu, dikutip Straits Times, Jumat (28/8).
Negara lain yang turut menawarkan bantuan adalah Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Sri Lanka, dan Bangladesh.
Profil Balendra Shah
Balendra Shah merupakan mantan seorang rapper yang beralih menjadi politikus. Ia resmi menjadi Perdana Menteri Nepal setelah memenangkan pemilihan umum dengan suara telak pada Maret lalu.
PM 36 tahun itu menjadi pemimpin negara termuda di dunia dengan janji membawa perubahan di tengah kekecewaan masyarakat terhadap korupsi, nepotisme, dan dominasi elite politik yang melanda Nepal.
Ia pernah merilis sebuah lagu yang penuh optimisme tentang masa depan Nepal. Lagu tersebut mendapat lebih dari dua juta penonton hanya dalam beberapa jam setelah dirilis.
"Nepal yang tak terpecah, kali ini sejarah sedang dibuat," demikian lirik.
Melalui lagu itu, Shah menggunakan musik untuk mengecam korupsi dan masalah sosial lainnya di Nepal.
Setelah tiga tahun menjabat sebagai wali kota ibu kota Kathmandu, Shah bergabung dengan Partai Rastriya Swatantra (RSP) sebagai kandidat perdana menteri.
Para pendukungnya menilai pria yang kerap disapa Balen itu sebagai simbol perubahan dari kegagalan rezim lama Nepal.
Namun, beberapa pihak mempertanyakan apakah RSP yang baru berusia empat tahun ini mampu mewujudkan janji-janji besar yang telah dibuatnya.
Rapper pemberontak
Shah lahir pada 1990 di Naradevi, Kathmandu. Ia merupakan anak bungsu dalam keluarganya. Ayahnya bekerja sebagai praktisi Ayurveda, sedangkan ibunya mengurus keluarga.
Shah menempuh pendidikan teknik di Kathmandu dan Karnataka, India. Namun, sebelum masuk ke dunia politik, ia lebih dulu dikenal sebagai rapper.
Pada 2013, ia menjadi terkenal setelah memenangkan kontes rap populer di Nepal.
Shah merilis beberapa lagu populer yang mengkritik korupsi dan ketidaksetaraan sosial di negaranya. Ia tampil khas dalam video musik dengan kacamata hitam persegi, blazer hitam, dan celana panjang hitam.
Salah satu lagu terkenalnya, "Balidan", yang berarti pengorbanan. Lagu itu telah ditonton sekitar 14 juta kali di YouTube.
Melalui lagu tersebut, Shah mengkritik kesenjangan ekonomi dan kondisi warga Nepal yang bekerja di luar negeri.
Shah memasuki dunia politik pada 2022. Ia maju sebagai kandidat independen dalam pemilihan wali kota Kathmandu dan berhasil mengalahkan kandidat dari partai-partai politik yang telah lama mendominasi pemerintahan Nepal.
Selama menjadi wali kota, Shah berupaya membersihkan kota, melestarikan warisan budaya masyarakat adat, dan memberantas korupsi.
Ia juga merobohkan bangunan ilegal untuk membantu mengurangi kemacetan lalu lintas. Meskipun menuai kritik dari pedagang kaki lima dan warga di permukiman kumuh.
Naiknya kekuasaan
Popularitas Shah semakin kuat ketika Nepal dilanda protes pada September tahun lalu. Demonstrasi itu dipicu oleh larangan media sosial dan berkembang menjadi kemarahan terhadap korupsi, pengangguran, serta stagnasi ekonomi.
Sebanyak 77 orang tewas dalam kerusuhan tersebut. Banyak korban dilaporkan merupakan demonstran yang ditembak polisi.
Para demonstran bahkan menggunakan lagu Shah berjudul "Nepal Haseko", yang berarti "Nepal yang Tersenyum", selama aksi protes berlangsung.
Shah menjalankan kampanye dengan gaya yang berbeda dari politikus lainnya.
Shah lebih banyak berkomunikasi dengan pemilih melalui media sosial.
Ia menggunakan platform tersebut untuk menyampaikan sejumlah janji, termasuk pemberantasan korupsi, reformasi peradilan, dan penciptaan 1,2 juta lapangan kerja baru.
Strategi tersebut berhasil. RSP meraih kemenangan besar dalam pemilihan umum pada 5 Maret. Shah bahkan menggulingkan mantan perdana menteri KP Sharma Oli di daerah pemilihan Jhapa 5, yang telah lama menjadi benteng kekuasaan Oli.
Kontroversi dan tantangan
Namun, bukan berarti Shah sepenuhnya bersih dari kritik.
Sebagai walikota, ia dikritik oleh kelompok hak asasi manusia karena menggunakan polisi secara berlebihan terhadap pedagang kaki lima.
Sementara, tim kampanye Shah tidak menanggapi permintaan komentar dari BBC.
Human Rights Watch yang juga menyuarakan kekhawatiran tersebut mengatakan kepada BBC bahwa pemimpin baru sering berusaha menunjukkan hasil dengan cepat.
"Kami berharap sebagai perdana menteri, akan ada fokus pada tatanan yang lebih berbasis aturan," kata wakil direktur Asia dari Human Rights Watch, Meenakshi Ganguly.
Shah juga memicu kontroversi melalui unggahan di Facebook pada November tahun lalu.
Dalam unggahan tersebut, ia menggunakan kata-kata kasar dan menyebut Amerika Serikat, India, China, serta sejumlah partai politik Nepal, termasuk RSP. Ia kemudian menghapus unggahan tersebut.
Di luar kontroversi ini, Shah dan para pemimpin partainya harus menghadapi harapan besar dari para pemilih yang mendambakan perubahan, serta sejumlah tantangan.
Hal ini termasuk perang di Timur Tengah, tempat jutaan warga Nepal mencari pekerjaan, pengangguran kronis dan perekonomian yang lesu di Nepal, serta kurangnya pengalaman RSP dalam memerintah.
Selain itu, pemerintah Shah harus menentukan langkah terhadap hasil investigasi pemberontakan mematikan pada 2025. Pemerintah Nepal pada Kamis mempublikasikan hasil penyelidikan yang merekomendasikan agar mantan Perdana Menteri KP Sharma Oli dituntut.
Sebagai perdana menteri baru, Shah dan RSP kini harus menentukan bagaimana rekomendasi tersebut akan diterapkan.
(mge/rds)

5 hours ago
2















































