Usai Gempur Iran, Trump Jadikan Kuba Target Militer AS Berikutnya

13 hours ago 11

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan pernyataan mengejutkan dengan menyebut Kuba sebagai target kekuatan militer AS selanjutnya.

Pernyataan ini dilontarkan di tengah berkecamuknya perang besar antara Washington dan Teheran yang masih berlangsung.

Berbicara dalam acara Future Investment Initiative Summit di Miami, Florida, Selasa (24/3), Trump membanggakan kekuatan militer AS yang ia bangun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya katakan kita tidak akan pernah perlu menggunakannya, tapi terkadang Anda harus melakukannya, dan berikutnya adalah Kuba," tegas Trump, seperti dilansir Al Jazeera.

Laporan menyebutkan bahwa AS saat ini sedang melakukan negosiasi keras dengan pemerintah Kuba melalui Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang merupakan keturunan imigran Kuba.

Washington secara resmi menuntut pengunduran diri Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel. Pemerintah Kuba secara resmi telah menolak tuntutan tersebut, yang memicu ancaman penggunaan kekuatan militer oleh Trump.

Mengenai perang dengan Iran, Trump mengeklaim bahwa Teheran kini "sangat mendambakan kesepakatan" dan negosiasi sedang berlangsung. Ia juga menyebut blokade Selat Hormuz mulai melonggar dengan lewatnya 10 kapal tanker minyak.

Namun, Trump menegaskan perang belum berakhir. Trump mengeklaim angkatan laut, angkatan udara, pertahanan udara, dan jaringan komunikasi Iran telah hancur total.

Terkait pengganti Ayatollah Ali Khamenei, yakni putranya Mojtaba Khamenei, Trump berujar, "Tidak ada yang mendengar kabar darinya, dia mungkin sudah tewas atau dalam kondisi yang sangat buruk."

Trump mengungkapkan masih ada 3.554 target yang tersisa di Iran yang akan "diselesaikan segera."

Trump tidak menyembunyikan kekecewaannya terhadap sekutu NATO yang menolak mengirim kapal perang ke Selat Hormuz. Ia menyebut penolakan tersebut sebagai "kesalahan besar" dan mengancam akan menagih kompensasi finansial dari NATO.

Terkait kritik bahwa perang Iran diluncurkan tanpa persetujuan Kongres AS, Trump membela diri dengan permainan istilah hukum. Ia menyebut aksi militer ini sebagai "konflik militer" atau "operasi militer."

"Jika itu adalah perang, Anda butuh persetujuan (Kongres). Tapi jika itu adalah operasi militer, Anda tidak butuh," dalih Trump.

Di akhir pidatonya, Trump sempat berkelakar kepada media untuk "berpura-pura tidak mendengar" pernyatannya soal Kuba, meski ancaman tersebut telah menjadi sinyal kuat arah kebijakan luar negeri AS selanjutnya.

(wiw)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |