Malaysia Punya Kapal Perang Baru, Tapi Belum Bisa Tenggelamkan Musuh

2 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Angkatan laut Malaysia sedang bersiap untuk menerima kapal perang baru yang bisa dikerahkan untuk peperangan anti-kapal selam, anti-pesawat, dan elektronik.

South China Morning Post (SCMP) melaporkan kapal tempur pesisir pertama Malaysia ini akhirnya dijadwalkan tiba pada Desember mendatang, setelah nyaris satu dekade tertunda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, meski akan segera tiba, kapal perang ini bakal datang tanpa rudal anti-kapal. Artinya, Malaysia tidak akan bisa menenggelamkan kapal musuh.

Padahal, kemampuan ini seharusnya menjadi ciri khas kelas Mahareja Lela.

Pada 2018, Malaysia meneken kontrak dengan Norwegia untuk mendapatkan Naval Strike Missile (NSM) buatan perusahaan Kongsberg Defence & Aerospace. Rudal itu rencananya akan dipasang pada kapal perang Littoral Combat Ship (LCS) milik Angkatan Laut Negeri Jiran.

Malaysia sudah bayar 95 persen nilai kontrak. Tetapi, menjelan pengiriman, Norwegia mencabut izin ekspor rudal tersebut.

Norwegia beralasan ekspor teknologi pertahanan sensitif semacam itu akan dibatasi mengingat situasi keamanan global yang semakin tidak menentu. Teknologi tersebut hanya akan diberikan kepada sekutu-sekutu terdekat Norwegia, terutama negara anggota NATO.

Malaysia pun kelabakan mencari alternatif. Turki dan Korea Selatan kini masuk dalam daftar pemasok rudal potensial.

Analis militer Collin Koh, peneliti senior di Institut Pertahanan dan Studi Strategis Singapura, menilai hilangnya sistem rudal pada LCS meninggalkan celah besar dalam "pencegahan angkatan laut konvensional".

Namun, ia dan sejumlah pakar pertahanan regional berpendapat bahwa penundaan kedatangan akan menjadi kesalahan yang lebih mahal.

Lebih dari 60 persen armada AL Malaysia berusia lebih dari 40 tahun. Kondisi ini menyebabkan peningkatan biaya perawatan dan membebani operasional.

Menurut Abdul Rahman Yaacob dari Rabdan Security and Defence Institute di Uni Emirat Arab, mendatangkan platform baru ke perairan Malaysia, terutama Laut China Selatan yang dipersengketakan, saat ini lebih penting daripada kekuatan senjata.

"Pada tahap ini, meskipun kemampuan serangan ofensif tentu diinginkan, hal itu belum penting," ujarnya.

Muhammad Syameer Luthfy Hamzah, seorang peneliti di Universitas Islam Internasional Malaysia, mengatakan pencarian sistem rudal permukaan-ke-permukaan pengganti akan sangat penting dan tak boleh dianggap catatan kaki.

"Rudal itu bukanlah komponen kecil. Rudal itu merupakan bagian dari kemampuan tempur ofensif kapal dan, secara tidak langsung, berkontribusi pada kemampuan pencegahan konvensional," ujarnya.

Tanpa sistem rudal, kapal perang ini masih bisa menangani pengawasan maritim, bantuan kebencanaan, dan melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Kendati demikian, Malaysia sudah punya badan untuk tugas-tugas tersebut.

"Oleh karena itu, pencarian sistem rudal permukaan-ke-permukaan pengganti akan sangat penting," tambahnya.

Malaysia akan memiliki lima unit kapal tempur pesisir kelas Maharaja Lela. Pembuatan kapal perang ini menelan biaya sekitar US$2,55 miliar bagi Malaysia.

Kapal ini dibangun berdasarkan desain kelas Gowind dari French Naval Group. Kapal-kapal ini dijadwalkan dikirim secara bertahap hingga tahun 2029.

Awalnya, kapal dijadwalkan dikirim pada 2019. Namun, kesalahan urus di Boustead Naval Shipyard menyebabkan serangkaian penundaan. Kementerian Keuangan Malaysia akhirnya turun tangan dan mengubah namanya menjadi Lumut.

Sentimen publik memburuk terhadap program rebranding tersebut usai skandal itu terjadi. Akan tetapi, semakin hari kebutuhan akan kapal baru menjadi semakin sulit diabaikan.

Untuk saat ini, kapal perang terbaru Malaysia ini tampaknya akan mulai bertugas sebagai kapal pengawal mumpuni tanpa daya serang.

(blq/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |