Jakarta, CNN Indonesia --
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE), Kaja Kallas, melontarkan kritik keras terhadap negara-negara Teluk yang dinilai kurang memberikan dukungan terhadap Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia.
Kallas menegaskan bahwa aliansi global harus didasarkan pada prinsip "tanggung jawab bersama."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami belum melihat negara-negara Teluk membantu kami di sana (perang Rusia-Ukraina)," ujar Kallas dalam wawancara dengan CNN, Jumat (10/4). "Kerja sama ini tidak bisa hanya menjadi jalan satu arah," sambungnya.
Pernyataan Kallas muncul di tengah kritik yang menyebut Uni Eropa tidak berbuat banyak untuk meredakan ketegangan pasca pecahnya perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran serta penutupan Selat Hormuz.
Perempuan berusia 48 tahun ini membela peran Uni Eropa dengan menyebut pihaknya bukan pemicu. "Jujur saja, bukan kami yang menciptakan situasi ini (perang di Iran)," tegas Kallas menanggapi tuduhan ketidaksiapan UE, seperti dikutip Anadolu.
UE mengklaim telah berbuat banyak untuk stabilitas kawasan, termasuk operasi angkatan laut di Laut Merah, bantuan untuk angkatan bersenjata Lebanon, serta dukungan terhadap otoritas Palestina.
Kallas menyebut kritik terhadap peran Eropa "sangat tidak adil" mengingat kontribusi mereka dalam sistem pertahanan udara dan langkah-langkah keamanan lainnya.
Dia juga memperingatkan adanya negara-negara yang membantu Iran menyiasati sanksi internasional.
Menurutnya, tindakan tersebut dapat berdampak buruk pada keamanan global yang lebih luas karena para musuh Barat saat ini terlihat bertindak lebih terkoordinasi.
Terkait hubungan transatlantik dan NATO, Kallas menekankan NATO tetap merupakan aliansi pertahanan terkuat di dunia dan harus tetap dijaga kesolidannya.
Ia mengingatkan bahwa tentara Eropa telah banyak berkorban di Afghanistan dan Irak atas permintaan AS. "Kritik terhadap upaya (Eropa) tersebut tidak benar dan tidak adil," ujarnya.
Meski tensi diplomasi memanas, Kallas mengakui adanya penguatan kerja sama di bidang keamanan dan pertahanan antara UE dan negara-negara Teluk melalui dialog yang terus berjalan.
Kabar baik datang dari upaya mediasi regional. Pakistan, bersama Turki, China, Arab Saudi, dan Mesir, berhasil mengamankan gencatan senjata dua minggu antara Washington dan Teheran.
Pada Sabtu (11/4) ini, kedua belah pihak dijadwalkan bertemu di Islamabad, Pakistan, untuk merundingkan perdamaian permanen setelah 40 hari konflik yang melumpuhkan Selat Hormuz.
(wiw)
Add
as a preferred source on Google

10 hours ago
8















































