Cara Orang Kaya Taiwan Selamatkan Diri di Tengah Ancaman Perang Besar

11 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Ketegangan Taiwan dan China telah menjadi momok bagi warga kedua negara. Sejumlah warga Taiwan, terutama mereka yang berkelimpahan harta, telah menyiapkan rencana menyelamatkan diri mengantisipasi invasi militer langsung dari Cina.

Hubungan antara China dengan Taiwan memang panas dingin. China tidak mengakui kemerdekaan Taiwan dan menganggap pulau itu sebagai bagian dari salah satu provinsi Beijing. Sementara Taiwan bersikeras dengan kemerdekaannya yang mereka nyatakan pada 1949.

Ketegangan itu membuat hubungan kedua negara diselimuti ancaman perang terbuka. Untuk selamat, harus ada skenario mengantisipasi seandainya perang berkecamuk.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nelson Yeh menyadari hal itu. Warga Taiwan ini telah memiliki rencana untuk menyelamatkan diri.

Mengutip CNN, Ia mengaku telah membuka rekening bank di Singapura dan memindahkan seperlima kekayaannya.

Selain itu, ia dan istrinya juga mendaftar kewarganegaraan di negara lain. Kini, Yehdan istrinya merupakan pemegang paspor Turki.

Yeh menyatakan dalam kondisi darurat, lewat langkah itu ia dapat mengakses dana darurat serta pergi meninggalkan Taiwan menggunakan paspor Turkinya.

"Kemungkinan hal ini terjadi rendah. Tetapi jika itu terjadi, kerugiannya akan sangat besar, jadi saya merasa harus memiliki rencana B," kata Yeh.

Selain itu, sejumlah warga Taiwan juga membeli properti di luar negeri.

Kuo, seorang pensiunan berusia 67 tahun, mulai membeli properti di Kamboja satu dekade lalu.

Ia mengaku awalnya langkah itu untuk investasi, namun belakangan juga menjadi langkah pencegahan jika konflik dengan China pecah.

Kuo khawatir Xi [Presiden China] akan memilih pendekatan yang lebih agresif, seperti blokade atau invasi dalam hal urusan Taiwan.

Ia berpandangan hubungan Beijing dengan Partai Progresif Demokratik selaku partai yang berkuasa di Taiwan memburuk.

"Selama Anda bisa keluar, Anda punya waktu untuk mengamati situasi dan menunggu hasilnya," ujar dia.

Terpisah, asisten profesor ilmu politik di Universitas South Alabama, Charles Wu berpendapat persepsi kesediaan rakyat Taiwan untuk berperang atau melarikan diri dapat sangat memengaruhi kebijakan China dan AS terhadap Taiwan.

Wu menyampaikan hasil analisis yang ia lakukan menunjukkan proporsi orang yang menyatakan kesediaannya membela Taiwan berkisar antara 15 persen dan 80 persen sejak 2017.

Sementara itu, hasil survei yang didanai Universitas Duke pada 2025 menunjukkan 37 persen mengatakan akan "mengikuti arus," 17 persen mengatakan akan mendukung keputusan pemerintah, 11 persen mengatakan mereka akan melarikan diri dari Taiwan, dan 20 persen menyatakan akan melawan atau bergabung dengan militer.

Di tengah memanasnya situasi geopolitik, teranyar Presiden China Xi Jinping menerima tokoh oposisi pemerintah Taiwan, Cheng Li Wun pada Jumat (10/4) lalu.

Cheng merupakan pemimpin partai Kuomintang (KMT). Kunjungan Cheng ini merupakan kali pertama dalam lebih dari satu dekade.

Kunjungan terakhir Partai KMT di Beijing terjadi pada 2015. Pemimpin KMT saat itu, Eric Chu menemui Xi Jinping.

Dalam pertemuan dengan Xi, Cheng berjanji akan melakukan "rekonsiliasi" dan "persatuan" di Selat Taiwan selama kunjungannya di Mausoleum Sun Yat Sen di Nanjing, ibu kota provinsi Jiangsu di China.

(mnf/wis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perlautan | Sumbar | Sekitar Bekasi | |