Jakarta, CNN Indonesia --
Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (FISU) melaporkan bahwa sedikitnya delapan warga negara Indonesia (WNI) direkrut menjadi tentara bayaran Rusia untuk perang melawan Kyiv.
Dalam pernyataan pada 27 Agustus lalu, FISU menyebut perekrutan kedelapan WNI diketahui usai pihaknya memperoleh salinan komunikasi Kementerian Luar Negeri Rusia mengenai pemrosesan visa untuk WNI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka di antaranya bernama Yuda Putra Pratama, Haryanto Dwi Kencana, Erwanda, Ngangun Hudri Fadli, Syaripudin Muhammad, Maulana M Hadi, Iskandar Wahyu Oktavian, dan Helmi Nugraha Hakim.
FISU menyatakan kemungkinan mereka mendapat iming-iming bayaran atau gaji bulanan yang besar sehingga tergiur untuk bergabung jadi tentara bayaran Rusia.
Berapa gaji tentara asing yang bekerja untuk Rusia seperti delapan WNI tersebut?
CNNIndonesia.com pernah menaksir gaji tentara bayaran asing Rusia saat kasus bergabungnya mantan anggota marinir TNI AL Satria Kumbara perang melawan Ukraina.
Berdasarkan informasi dari beberapa laporan investigatif dan pengakuan para pekerja migran yang berhasil keluar dari medan tempur, tentara asing dijanjikan bayaran yang bervariasi namun tergolong tinggi untuk standar negara asal mereka.
Mengutip dari Deutsche Welle, gaji tentara bayaran asing yang bekerja untuk Rusia berkisar antara US$2.000 hingga US$2.500 (setara antara Rp32 juta hingga Rp40 juta) per bulan.
Besaran itu berdasarkan pengakuan warga Sri Lanka, Walasmulla, yang dijanjikan gaji US$2.300 per bulan untuk menjadi tentara bayaran Rusia.
Ia mengaku mendapat bayaran awal US$2.000 saat pertama kali bergabung dengan pasukan Rusia di medan tempur lawan Ukraina. Pengakuan Walasmulla disampaikan saat ia ditahan pasukan Ukraina setelah mengalami luka serius.
Namun, kenyataannya banyak dari mereka tidak menerima gaji utuh, atau bahkan sama sekali tidak dibayar.
Beberapa di antaranya justru terjebak utang besar karena harus membayar agen perekrut hingga US$9.000 atau sekitar Rp145 juta hanya untuk visa dan tiket ke Rusia.
Sementara itu, pelatihan militer yang diberikan sangat singkat, sekitar dua minggu, dengan bahasa pengantar yang tidak mereka pahami, yaitu bahasa Rusia.
Menurut laporan dari Moscow Times dan Kyiv Independent, agen-agen perekrut menjanjikan gaji besar kepada pria-pria dari negara-negara seperti Sri Lanka, Indonesia, India, dan Nepal.
Kremlin sendiri tidak pernah mengonfirmasi laporan-laporan tersebut.
Disebutkan pula bahwa para tentara asing ini tidak bergabung dalam kelompok tentara bayaran seperti Wagner, melainkan dimasukkan langsung ke dalam struktur tentara reguler Rusia.
"Mereka perlu memenangkan perang dan mencapai tujuan militer mereka, dan cara terbaik untuk melakukannya adalah mempekerjakan tentara bayaran murah dari negara-negara Global Selatan yang bersedia berperang dan mati bersama orang Rusia," ujar Mark Hanna, peneliti senior di Institute for Global Affairs.
(tim/bac)

1 hour ago
3
















































